RADAR JOGJA – Ratusan orang berkumpul di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Mataram Kotagede, Kalurahan Jagalan, Kapanewon Banguntapan, Bantul. Dalam rangka pembersihan kolam atau sendang peninggalan era Mataram Islam. Situs bersejarah ini bernama Sendang Salirang.

Seksi Acara Nawu Sendang Salirang 2021 Dadik Rahmanto menuturkan, pembersihan dilakukan dengan menguras atau nawu. Oleh karena itu, upacara yang rutin digelar Bakda Mulud dalam penanggalan Jawa ini disebut nawu sendang. “Disebut selirang, karena di sini dulu selirane Panembahan Senopati,” jabarnya saat diwawancarai Radar Jogja Minggu (14/11).

Sendang Salirang sendiri terdiri atas dua blok, sendang kakung untuk laki-laki dan sendang putri untuk perempuan. Menurut mitos, sumber mata air di sendang kakung di berasal dari makam Panembahan Senopati. Sementara sumber mata air di sendang putri berada di bawah pohon beringin Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede. “Sejarahnya, Sendang Selirang sudah digunakan sejak zaman Ki Ageng Mataram, ayah dari Panembahan Senopati,” ungkapnya.

Dua sumber mata air itu yang mengalir ke kolam sangat besar dan tidak pernah surut. Sehingga airnya bisa digunakan oleh masyarakat sekitar. Bahkan sampai saat ini, Sendang Salirang juga masih digunakan. “Pentingnya upacara, karena Sendang Selirang sejak awal berdiri Mataram merupakan sumber air. Karena digunakan (ada kemungkinan kotor, Red), maka pembersihannya harus dilakukan,” jelasnya.

Pembersihan dilakukan dengan Nawu Sendang Selirang. Upacara diikuti abdi dalem Kotagede dan Imogiri. Acara diawali dengan penyerahan peranti nawu. Antara lain berupa siwur, klenting, dan jodang. “Berhubung masih pademi Covid-19, jodang diisi dengan tumpeng,” sebutnya.

Terpisah, Lurah Jagalan Gono Santoso menuturkan, situasi pandemi Covid-19 membuat upacara Nawu Sendang Salirang harus digelar dengan sederhana. Prosesi arak-arakan dengan bregada rakyat dari Balai Kalurahan Jagalan pun ditiadakan.

Selain itu, gunungan yang biasanya jadi ajang ngalap berkah, diganti dengan tumpeng. “Penyelenggaraan kali ini, kalau tidak tahun kesembilan ya ke-10. Ini baru dilangsungkan lagi setelah abdi dalem menggagas untuk dilaksanakan meski sederhana,” bebernya.

Kendati begitu, upacara tetap mempertahankan tradisinya. Di mana pada malam sebelum upacara digelar acara doa. Pertunjukan yang digelar juga sederhana, berupa salawatan dan karawitan. Kemudian malam usai upacara tidak digelar wayangan.

“Nanti malam (tadi malam, Red) akan menampilkan kesenian dari potensi Jagalan. Tidak ada wayangan, karena otomatis banyak mendatangkan orang. Kami tidak berani memancing kerumunan. Nanti malam akan ada keroncong kontemporer,” ucapnya.

Kendati berlangsung sederhana, Gono tetap bersyukur upacara dapat dilangsungkan. Sebab pembersihan Sendang Seling dirasa penting. Kaitannya dengan menjaga kehigienisan kolam. “Semangat pembersihan sendang karena digunakan oleh masyarakat. Ketika digunakan, akan lebih bersih dan higienis bila dibersihkan. Kemudian ketika dimanfaatkan akan aman,” ujarnya.

Salah seorang warga yang datang untuk menyaksikan upacara Nawu Sendang Salirang adalah Yuni. Perempuan 44 tahun ini datang dengan maksud mengantar anak perempuannya ikut membersihkan sendang sekaligus berenang. “Tapi anak saya tidak jadi ikut nyemplung, teman-temannya nggak ada yang datang,” sebutnya. (fat/laz)

Bantul