RADAR JOGJA – Sempat jadi incaran. Stoknya bahkan bukan hanya kehabisan, tapi sampai kurang-kurang. Lantaran khasiatnya dipercaya dapat tangkal Covid-19. Kini, industri wedang uwuh sudah kurang hangat.

Salah satu pengusaha racikan wedang uwuh yang mengeluh adalah Zajimah Ibrahim. “Awal pandemi naik. Dulunya, ini (menunjuk stok racikan yang menumpuk di warungnya, Red) sebanyak ini dua hari abis. Sekarang yo pokoke sabar,” sebutnya ditemui di warungnya pekan lalu.

Saat awal pandemi, omzet yang diperoleh Zajimah tembus Rp 7 juta per hari. Namun rata-rata pendapatannya Rp 5 juta sampai Rp 6 juta per hari. “Awal pandemi itu, mencari Rp 2 juta itu gampang. Sambil tidur,” ujarnya kemudian tertawa.

Bukan hanya racikan wedang uwuh siap seduh yang dicari. Tapi bahan bakunya yang dijual per kilogram pun laris manis. Zajimah bahkan mengaku sampai kewalahan melayani pesanan. “Sampai capai loh itu. Ada jualan minuman herbal lain. Terus sama bahan wedang uwuh juga,” kenangnya.

Masa jaya itu kini surut. Omzet wedang uwuh turun tajam. Bahkan mencapai angka 80 persen. “Ya mungkin semua ya, bukan cuma saya. Sekarang dapat Rp 1 juta per hari wae sulit,” cetusnya kembali tertawa.

Sejatinya, Jazimah memiliki pelanggan yang merupakan pemilik kedai kekinian. Tidak sedikit, jumlahnya bahkan mencapai 62 tempat. Dulu tiap dua minggu, Jazimah pun mengirim paket wedang uwuh ke luar kota. “Dulu itu banter banget. Sekarang kok ada yang macet sejak Agustus,” ungkapnya.

Turut diungkap, beberapa pelanggan bahkan menghentikan pesanan. Sebagian lain, malah mengambil dan tak kunjung membayar. Jazimah menuding pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) jadi biang. Kemunduran bisnisnya terdampak oleh warga yang diimbau untuk tetap di rumah saja. “Orang tidak boleh plesir. Tersendat banget, karena PPKM. Online biasa, tapi kan tetap beda,” paparnya.

Senada, pemilik usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Wedang Uwuh Den Bagus sekaligus Ketua Hipmikomindo Bantul, Dwi Karti Handayani juga mengaku omsetnya menurun. Pasalnya, swalayan dan toko yang biasa dia titipi tutup. “Melonjak itu akhir Maret sampai awal April 2020, sekarang hanya mengandalkan pesanan,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Nugroho Eko Setyanto mengungkap bahwa wedang uwuh merupakan salah satu kuliner yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. (fat/pra)

Bantul