RADAR JOGJA – Berangkat dari kehampaan akibat pandemi Covid-19. Timbul Raharjo hadirkan karya dengan ‘tidak ada ide sebagai sumber inspirasi penciptaan ide seni, arca dan gambar’. Sekaligus sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat. Apa itu?

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Keterbatasan gerak selama pandemi Covid-19 nyatanya tak mampu membendung kreativitas seniman kawakan, Timbul Raharjo. Kekosongan terus diisinya dengan kekonsistenan berkarya. “Seniman harus konsisten, sebagai kunci penciptaan dapat dilakukan terus-menerus,” cetusnya diwawancarai pada pembukaan pameran di Candi Tirto Raharjo, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Sewon, Bantul, beberapa waktu lalu.

Konsistensi berkarya, diwujudkan oleh Dekan Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR ISI) itu dalam wujud pameran. Sekaligus sebagai apresiasi terhadap karya kepada masyarakat. “Alhammdulillah karya inovasi monumental seni rupa saya dapat terlaksana dengan baik,” puji syukurnya.

Pria 52 tahun ini mengaku sempat mengalami kebuntuan dalam berkarya. Kemudian dia justru dengan sengaja mengambil tema ‘tidak ada ide sebagai sumber inspirasi penciptaan ide seni, arca dan gambar’. Dalam penciptaan inovasi seni rupa monumentalnya kali ini.

Terasa ganjil, namun dapat dijelaskan secara gamblang. Penciptaan inovasi ini banyak mengeksplorasi ide bentuk, bahan, dan teknik. Nah, Timbul menyampaikan maksud dan tujuan dalam penciptaan seni rupa ini yakni ‘kebebasan berekspresi’. Maka dengan kebebasan itu, Timbul bergagasan bahwa ketiadaan ide pun dapat menjadi ide penciptaan. “Bertindak dari tidak ada ide. Dapat diterapkan ke semua ide. Jadi idenya liar. Simpul akhirnya, kekosongan bisa menjadi sumber karya,” jelasnya.

Mungkin terasa absurd dan memang diakui demikian adanya. Dalam berseni rupa Timbul berpandangan bahwa ide harus liar sesuai dengan hati nurani. Apa yang dikatakan memiliki kesesuaian dalam tindakan. Berkarya adalah keinginan dan kegelisahan diri, gelisah karena gembira maupun gelisah karena sedih. “Keduanya memiliki tingkatan yang sama pada implementasi penciptaan karya inovasi ini,” tegasnya.

Untuk itu, Timbul pun tidak masalah sering dikategorikan sebagai seniman ‘abangan’. Artinya tanggung dan tidak jelas. Namun, eksplanasi yang disampaikan oleh Timbul menjadi semacam pembelaan diri sebagai kreator yang bertanggungjawab.

Dalam pamerannya kali ini, Timbul menampilkan setidaknya 40 karya seni lukis dan 23 karya seni patung. “Mohon maaf, karena jumlah karya relatif banyak, maka dalam penciptaan ini fokus utamanya adalah proses penciptaan seni rupa itu sendiri,” ujarnya.

Timbul ogah, menyatukan pemahaman holistik dari semua karya yang disajikannya dalam konsep keterkaitan karya satu dengan lainnya. Namun, mencoba mengambil konsep generalistik untuk merangkum sebagai ketiadaan ide yang diklaimnya ternyata sangat beride. “Karya yang disajikan sekitar 63 karya dibuat selama 2021, setiap karya memiliki konsep yang berbeda dengan lainnya,” sebutnya.

Hamparan karya yang dipamerkan di Candi Tirto Raharjo diharapkannya dapat memberi pengalaman artistik bagi para pengunjung. Pameran mulai digelar 8 November dan akan berakhir pada 13 November . “Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat, pandemi cepat berlalu, dan kita dapat menjalankan tugas masing-masing dengan penuh semangat,” tandasnya.

Turut hadir dalam pembukaan, Asisten Sekretaris Daerah Bantul Bidang Sumberdaya dan Kesejahteraan Rakyat, Pulung Haryadi. Pulung berpesan agar pameran dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. “Kami harap, tetap patuhi prokes dalam menyelenggarakan kegiatan,” pesannya. (pra)

Bantul