RADAR JOGJA – Kekerasan jalanan oleh anak sudah semestinya dapat penanganan serius. Namun, penahanan fisik anak pelaku kekerasan bukan solusi utama. Sebab akar permasalahan justru dapat diteliti melalui pendekatan psikologis.

Psikolog Klinis, Ida Nur Faizah menjelaskan, perilaku agresif anak terhadap kekerasan berkaitan dengan tahap perkembangan. Pada usia remaja, anak dalam fase pencarian jati diri. “Mereka suka eksplorasi. Dilihat dari emosi, regulasinya masih dalam tahap menggebu-gebu,” paparnya dihubungi wartawan Kamis (11/11).

Pada tingkat emosi itu, anak menyukai tantangan. Emosi juga masih labil. Sehingga sangat membutuhkan rangkulan. Orang tua (ortu) memiliki peran penting dalam hal ini. “Biasanya, alasan mereka melakukan kekerasan, (justru, Red) salah satu yang paling banyak dari keluarganya,” ungkapnya.

Perhatian yang kurang dan sikap permisif ortu jadi akar permasalahan. Misalnya ortu cuek terhadap lingkungan anak bergaul. “Pola asuh permisif ini membuat ortu tidak tahu anaknya ngapain. Perilaku anaknya seperti apa. Bahkan lebih sering terserah (tidak peduli pada, Red) si anak,” sebutnya.

Menurut penelitian, mayoritas anak yang melakukan tindak kekerasan bukan berasal dari keluarga kurang finansial. Umumnya, keluarga mereka justru berkecukupan. “Ortunya tidak aware anaknya tidak butuh uang, tapi butuh perhatian dan kasih sayang. Sedangkan dalam tanda kutip (ortu, Red) seperti membeli (kebahagiaan anak, Red) dengan uang,” sesalnya.

Untuk itu, Ida meyakini anak pelaku kekerasan butuh pendampingan psikologis. Sejauh ini, penahanan masih jadi solusi pilihan. Lebih parah, masih ada masyarakat yang merasa benar dengan penghakiman massa. “Mereka (pelaku, Red) butuh pendampingan psikologi. Kita kerja, kalau ingin memperbaiki sesuatu, harus tahu akarnya. Otomatis, dari psikologi akan tanya alasan mereka melakukan kekerasan. Bagaimana hubungan keluarga, ortu, dan teman. Ngapain aja. Dari sana akan tahu (akar permasalahan, Red),” jabarnya. (fat/bah)

Bantul