RADAR JOGJA – Guyuran hujan tak memadamkan semangat umat Hindu datang ke Pura Jagatnata, Banguntapan, Bantul. Setelah hampir setahun tak dapat beribadat saat Galungan, karena pandemi, mereka bisa kembali bertemu. Untuk melawan kebatilan, seperti semangat Galungan.

Mengenakan pakaian bernuansa putih, umat datang membawa sesaji guna perayaan Hari Suci Galungan. Selain itu, peribadatan dapat jadi ajang jumpa rekan sesama perantauan. Sekumpulan muda mudi tampak duduk pada satu sudut di luar bangunan pura. Bercengkrama dengan patuh mengenakan masker, tangan mereka sibuk menata sesaji persembahan berupa buah, makanan ringan, dan bunga. “Mangga, silahkan duduk,” sambut salah seorang perempuan dengan bija masih melekat pada dahinya kemarin (10/11).

Perempuan itu memperkenalkan diri dengan nama Putu Dewi. Perayaan Galungan kali ini disebutnya istimewa. Sebab dia yang merupakan perantau dari Singaraja, Buleleng, Bali dapat merayakan hari besar agamanya dengan suka cita. “Saya perantau, selama di Jogja, Hari Raya Galungan adalah yang ditunggu,” sebutnya.

Gadis yang segera akan berusia 21 tahun ini menyebut, selama di DIJ dirinya seolah-olah merasa sendiri. Terlebih pandemi Covid-19 telah ‘memaksa’ warga untuk sebisa mungkin berada di rumah. “Ini adalah hari besar Hindu, dari sekian lamanya kita menghadapi pandemi. Jarang bisa berkumpul untuk melakukan sembahyang bersama,” ujarnya.

Pengempon Pura Jagatnata Ketua Bidang Umum sekaligus Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kapanewon Banguntapan, Sutarto Darmanto menyebut perayaan Galungan dilakukan sesuai protokol kesehatan (prokes). “Prokes kami perketat. Kami siapkan Punggowo Jagatnoto,” tegasnya.
Punggowo Jahgatnoto bertugas memastikan prokes berjalan. Seperti menyediakan stand thermo, tempat cuci tangan, dan masker bagi yang tidak membawa. “Sebelum dan sesudah penggunaan kami semprot dengan menggunakan desinfektan,” imbuh Kang Taryo, sapaanya.

Sementara Ketua Pengempon Pura Jagatnata Wayan Tunas Artama menjelaskan, Galungan  merupakan perayaan kemenangan yang umum dirayakan oleh umat Hindu di Bali. Galungan merupakan simbol kemenangan Dharma atau kebajikan melawan Adharma atau kebatilan.

Menurut sejarah, Bali pernah dipimpin oleh seorang raja yang lalim dan kejam bernama Mayadenawa. Masyarakat diwajibkan mengikuti kegiatan yang diperintahkannya, kendati melanggar aturan keagamaan. “Hakikinya, melawan kebatilan yang ada di diri kita, agar bisa menjalankan ibadah sesuai ajaran agama. Sehingga disebut Hari Raya Galungan,” paparnya. (fat/pra)

Bantul