RADAR JOGJA – SMAN 1 Sewon membantah siswanya terlibat tawuran pada 29 September 2021. Pengecekan oleh sekolah melalui data pokok pendidikan (Dapodik) pun tidak dijumpai siswa dengan inisial MKA. Oleh sebab itu, sekolah ini keberatan dengan penggiringan opini siswanya terlibat tawuran sampai jatuh korban jiwa.

Kepala SMAN 1 Sewon Yati Utami Purwaningsih menyebut, dirinya tahu betul kegiatan siswanya di sekolah. Ditekankan, tidak ada siswanya yang terlibat terlibat tawuran selama di sekolah. “Kami klarifikasi, anak kami atau SMAN 1 Sewon tidak ada di peristiwa tersebut (tawuran, Red) dan tidak terlibat. Kejadian itu (keterlibatan siswa SMAN 1 Sewon dalam tawuran) tidak benar,” tegasnya kepada wartawan Selasa (9/11).

Guna memastikan ketidakterlibatan, SMAN 1 Sewon juga menelusuri nama-nama siswa. Dalam pengecekan tidak ditemukan nama MKA dalam daftar siswa. “Kami langsung cek di Dapodik. Dan nama anak tersebut tidak ada,” tandas Yati.

Dibeberkan, SMAN 1 Sewon pun telah melakukan koordinasi dengan Polres Bantul, berkaitan dengan penyebutan sekolahnya terlibat tawuran. Sekolah kemudian diberi pers rilis. Menjelaskan benarnya terjadi pecah tawuran 29 September 2021 dini hari. “Tapi dalam rilis (polisi mengklaim, Red) tidak menyebut nama SMAN 1 Sewon,” sebutnya.

Selanjutnya Yati menuturkan sekolahnya dibangun untuk perjuangan nama baik. Sebab, lembaga yang dipimpinnya adalah institusi pendidikan. “Dari semalam, bukan hanya orang tua, tapi guru, dinas klarifikasi, sampai dari Bina Mental Kepatihan menelepon meminta klarifikasi,” ungkapnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya ditulis, terjadi kekerasan jalanan yang memakan korban pada 29 September 2021. Sebanyak 11 pelajar ditetapkan sebagai tersangka. Mereka sadar perbuatannya dapat berdampak pada konsekuensi hukum. Namun bukan berhenti, mereka malah buat surat perjanjian di atas meterai sebelum tawuran.

“Meskipun ada perjanjian dan tanda tangan di atas meterai, pelaku kekerasan jalanan ini tetap kami proses hukum. Korban kena bacok, meninggal setelah perawatan 10 hari. Ini pidana,” tegas Kapolres Bantul AKBP Ihsan dalam jumpa pers di Lobi Mapolres Bantul.

Secara rinci Ihsan menjelaskan tawuran terjadi antara dua geng sekolah. Geng pertama adalah Stepiro (Serdadu Tempur PIRI Revolution) di Sewon. Sementara geng kedua adalah Sase (Satu Sewon). “Kedua geng ini tantang-tantanganan melalui medsos. Lewat grup WA ingin menunjukkan eksistensinya. Akhirnya disepakati jam tawuran dan ada surat pernyataan bemeterai Rp 10 ribu. Salah satu isinya, tidak boleh melapor ke polisi,” bebernya.

Tawuran berlangsung dini hari pukul 02.30, lokasinya di Ring Road Selatan, Kasihan, Bantul. Stepiro datang dengan jumlah lebih banyak, sekitar 20 orang, sementara Sase hanya 14 orang. Dalam tawuran ini terdapat dua korban dengan luka parah. Mereka dalah MKA dan RAW dari Sase. “Keduanya opname, setelah 10 hari dirawat, MKA meninggal dunia karena luka tebasan di dada. Kalau RAW rawat jalan,” sebutnya.

Selepas meninggalnya MKA, polisi mendapat laporan adanya tindak pidana pengeroyokan dan penganiayaan pada Rabu (3/11). Selanjutnya secara maraton kepolisian melakukan pencarian pelaku. “Penyelidikan cukup lama, kami amankan para pelaku di rumah masing-masing. Awalnya mengerucut ke satu orang dan kemudian ketahuan lainnya. Berkembang jadi 11 tersangka,” jelasnya. (fat/laz)

Bantul