RADAR JOGJA – Bumi Projotamansari dituntut siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Semua komponen bersiaga jaga Bantul tetap kondusif. Termasuk Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) yang mengawasi kelancaran air.

“Bantul posisi di selatan ya, utara hujan sangat pengaruh (terhadap naiknya debit air, Red),” sebut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul Bobot Ariffi’aidin diwawancarai saat tinjau talut ambrol di Padukuhan Jurang Bodon, Jagalan, Banguntapan, Bantul Senin (1/11).

Bobot pun menilai bantaran sungai dan bendungan jadi titik rawan bencana hidrometeorologi. Mengingat Bantul merupakan wilayah hilir sungai.
Bobot tidak menyebut angka pasti jumlah titik rawan. Namun, beberapa bendungan di Bantul jadi pengawasan dinasnya. Sebab harus dilakukan pembukaan saat debit air diperkirakan meningkat. “Kami pantau kondisi utara, untuk bendung yang perlu pembukaan dengan segera. Karena butuh waktu untuk buka itu, jadi ngga macet (saat debit air naik, Red),” bebernya.

Dalam kesempatan ini, Bobot meminta kerjasama warga. Agar memiliki rasa memiliki dan sadar untuk merawat kebersihan sungai. Sebab hal itu turut berdampak pada kelancaran air sungai menuju muara. “Kalau pemerintah semua berat, kalau sama-sama bisa dilaksanakan sebaik-baiknya,” imbaunya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bantul, Irawan Kurnianto menyebut dinasnya rutin mendapat informasi perubahan cuaca. BPBD pun mengajukan mitigasi hidrometeorologi.

Berkoordinasi dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bantul, serta potensi relawan, BPBD mengaktifkan 29 pos pantau. Pos tersebar hampir di tiap kapanewon. Sesuai Keputusan Bupati Bantul No 353/2021 tentang Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Tanah Longsor, dan Angin Kencang. “Kami pilih kalurahan yang rawan bencana hidrometeorologi. Terutama di lereng pegunungan dan berada di tepi sungai besar,” paparnya.

Berdasarkan rilis terakhir Badan MeteorologiKlimatologidanGeofisika (BMKG), Bantul mulai awal musim hujan terjadi di dasarian ketiga bulan Oktober. Artinya, musim penghujan di Bantul dimulai pada sepuluh hari terakhir bulan Oktober. Namun pemberitahuan diterima sejak Agustus 2021. “Biasanya, saat pancaroba terjadi banyak bencana hidrometeorologi. Misal angin kencang, pohon tumbang, dan longsor,” sebutnya. (fat/bah)

Bantul