RADAR JOGJA – Enam orang peserta seleksi pamong Ulu-ulu Kalurahan Srimartani didampingi oleh Gerakan Peduli Srimartani mendatangi gedung DPRD Bantul. Mereka melaporkan dugaan kejanggalan yang terjadi dalam seleksi pamong di Kalurahan Srimartani, Kapanewon Piyungan, Bantul. Kedatangan mereka diterima oleh Komisi A DPRD Bantul.

Salah satu peserta seleksi yang hadir, Anwaruddin membeberkan, seleksi dilaksanakan pada Kamis (7/10). Sebanyak 16 peserta mengikuti seleksi pamong Ulu-ulu yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. “Kami menemukan beberapa poin kejanggalan seleksi,” sebutnya ditemui usai audiensi dengan Komisi A DPRD Bantul kemarin (18/10).

Pion pertama, waktu yang diberi oleh tim penguji dalam mengerjakan soal tertulis tidak wajar. Kedua, tidak ada tata tertib yang jelas saat ujian. Ketiga, peserta yang menjadi rangking satu merupakan kerabat dekat salah satu pansel. Keempat, pansel yang berkerabat dengan rangking satu membantu pengumpulan berkas dalam rangka pemberian dukungan. Kelima, ketidakjelasan pembuat soal tertulis.

Anwar, sapaan akrabnya, pun membagi pengalaman. Di mana dia dan beberapa peserta lain sempat meminta tambahan waktu kepada tim penguji. Sebab waktu yang diberikan sangat pendek, yaitu 45 menit untuk mengerjakan 100 soal pilihan ganda dan 10 uraian. “Saat saya dan teman-teman baru selesai 50 soal pilihan ganda, dia (rangking satu, Red) sudah selesai,” ucapnya.

Hal itu sudah memicu kejanggalan. Namun kejanggalan paling nampak, terjadi saat ujian praktik. Pada sesi ini, peserta diminta mengerjakan proposal pembangunan dan mengisi kolom excel yang kosong. Tapi, Anwar yang mendapat kursi tepat di belakang peserta rangking satu merasa kaget. “Si rangking satu, di layar laptop miliknya sudah ada seperti proposal jadi, lengkap dengan kop kabupaten. Dugaan kami sudah menjadi proposal. Jangan-jangan bocor duluan dan dikirim melalui e-mail,” paparnya.

Dugaan itu dikuatkan dengan informasi latar belakang peserta si rangking satu. Di mana ia merupakan kerabat dekat salah satu pansel. Selain itu, peserta tidak aktif kegiatan karang taruna dan tidak memiliki laptop. “Sehingga kecurigaan kami tinggi,” sebutnya.

Oleh sebab itu, Anwar berharap, aduannya kepada Komisi A DPRD Bantul dapat memberi ruang. Bagi audiensi terhadap pihak-pihak terkait seleksi pamong Ulu-ulu Srimartani. “Kami tadi diterima di ruang Komisi A DPRD Bantul,” ucapnya.
Simpatisan Gerakan Peduli Srimartani, Muhammad Solinuruddin menambahkan, soal ujian pamong seharusnya murni dibuat oleh pihak ketiga, dalam hal ini UIN Sunan Kalijaga. Namun, peserta sempat mendengar adanya soal titipan dari pihak kalurahan. “Kan, curiga siapa sing ngawe, diragukan independensi, ada potensi untuk menjualbelikan. Kalimat seperti itu disaksikan oleh peserta. Terus do curiga. Kok soal dari desa, rawan bocor,” cetusnya.

Ketua Komisi A DPRD Bantul, Muhammad Agus Salim mengaku menerima audiensi tersebut. Kemudian akan memanggil pihak-pihak terkait untuk audiensi. Sementara Lurah Srimartani, Mulyana sudah mengganti nomor kontaknya, saat Radar Jogja mencoba menelpon. (fat/pra)

Bantul