RADAR JOGJA – Energi ramah lingkungan mulai mendapat banyak lirikan. Produk buatan anak bangsa pun bermunculan. Menunjukkan daya saing yang juga patut diperhitungkan.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Sejak 7 September 2017, pria 54 tahun ini merintis startup yang bergerak di bidang industri drone komersial. Tujuannya untuk membantu penyelesaian masalah transportasi barang, orang, dan pertanian di Indonesia. “Karena kami melihat di masa depan akan ada beberapa hal yang berubah,” ujar Asro Nasiri saat diwawancarai usai peresmian kantor barunya di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul (8/10).

Isu yang menjadi sorotan adalah sumber energi alternatif penggerak motor. Listrik masuk dalam kategori tersebut. “Selain itu, isu di negara kita juga kondisi geografisnya banyak wilayah yang sulit dijangkau dengan pesawat biasa. Jadi kita harus menggunakan pesawat semacam ini, drone,” sebutnya.
Untuk itu, startup yang dikelola Asro dan rekannya Kiwi Aliwarga telah memproduksi beberapa jenis model drone. Startup mulai membuat drone passenger. Selain itu, juga mulai membuat drone untuk kargo, spraying, dan surveillance. “Sampai sejauh ini kami cukup sukses, sehingga kami perlu membuat satu perusahaan khusus bagi penyemprotan,” bebernya.

Drone passenger dan spraying atau penyiraman merupakan kebanggaan pria yang juga dosen di sebuah PTS ini. Lantaran produknya merupakan yang pertama ada di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. “Pertama di Indonesia dan Asia Tenggara, baru kami. Dan itu di Bantul,” tegas lulusan program studi Elektronika dan Instrumentasi UGM tahun 1993 itu.

Produk karya Asro dan timnya pun diklaim memiliki keunggulan dalam hal kecepatan servis. Terutama bila terjadi kendala pada saat dioperasikan. “Kelebihan kami, karena kami buat sendiri jadi service sangat cepat. Kalau hari ini ada masalah, besok sudah bisa terbang lagi. Tapi kalau menggunakan produk luar, mungkin perlu waktu tiga minggu,” katanya.

Kendati berbangga, Asro mengaku saat ini tengah bersaing dengan produk buatan luar negeri. Hal ini cukup disayangkan. Sebab dengan penggunaan produk luar negeri, sama artinya dengan membagikan data terhadap pihak luar. “Kalau pakai produk luar negeri, datanya diambil mereka,” ujar pria yang pernah berkecimpung di PT Industri Dirgantara (DI, dulu IPTN) dari tahun 1993 sampai dengan 2007 ini.

Data tersebut utamanya berkaitan dengan pertanian di Indonesia. Untuk diketahui, pengguna layanan dari perusahaan startup Asro bukan hanya di Jawa, tapi juga luar Jawa. “Sebetulnya kalau menggunakan pesawat ini akan tahu persis berapa lahan pertanian, disemprot berapa pekan sekali dengan cairannya apa. Sehingga data bisa dijadikan analisis,” jabarnya. (laz)

Bantul