RADAR JOGJA – Normalisasi Muara Kali Opak jadi perhatian. Kaitannya dengan pembangunan Jembatan Kretek II sebagai penghubung Jalan Jalur Lingkar Selatan (JJLS). Sebab letaknya berada di bawah jembatan yang seharusnya tertata sebagai potensi wisata.

Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIJ Amir Syarifudin menekankan, normalisasi Muara Kali Opak sangat penting. Sebab hal ini turut jadi wajah DIJ, saat JJLS rampung dan jadi perlintasan wisatawan dari YIA. “Jangan sampai jembatan bagus tapi tidak memunculkan dampak ekonomi,” cetusnya dihubungi Radar Jogja kemarin (8/10).

Dampak ekonomi yang dimaksud oleh Amir adalah keindahan Muara Kali Opak yang berada di bawah Jembatan Kretek II. Sehingga lokasi itu memiliki daya tarik wisata. Sebab politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini berharap, rampungnya Jembatan Kretek II dapat berdampak luas. “Apa lagi pasca-Covid-19 ini (Jembatan Kretek II, Red) harus punya dampak baik,” ujarnya.

Amir turut mengharapkan, normalisasi Kali Opak dilakukan dengan baik. Di mana permasalahan yang timbul dalam prosesnya, dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Sebab komisinya mendapat informasi, ada kelompok yang terkena dampak pembangunan Jembatan Kretek II dan normalisasi Kali Opak. “Kepala paguyuban katanya belum diajak rembukan, kami belum selesai klarifikasi. Jangan sampai pekerjaan meninggalkan potensi (konflik, Red) lokal. Termasuk merusak lingkungan,” tegasnya.

Untuk itu, Amir meminta pelaksana proyek membangun komunikasi yang baik dengan warga, baik di Kalurahan Donotirto dan Kretek. Sekaligus adanya pembahasan terkait gambaran pengembangan kawasan bersama kalurahan terkait. “Tentang gambaran ke depan, bisa kuliner, penataan, termasuk lahan pertanian agar tidak terganggu oleh abrasi Kali Opak,” ucapnya.

Kendati begitu, Amir mengapresiasi pembangunan Jembatan Kretek II yang menurutnya dikerjakan sesuai rencana. Sehingga dimungkinkan proyek dapat selesai sesuai target pada 2023. “Progres, dalam hitungan saya masuk. Karena target selesai 2023, sekarang masih 2021. Jadi masih panjang waktunya,” sebutnya.

Rampungnya Jembatan Kretek II sebagai bagian penting JJLS turut dinantikan oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul, Kwintarto Heru Prabowo. Bahkan Dinpar telah menyiapkan dua skema tempat pemungutan retribusi (TPR) wisata Pantai Selatan (Pansela).

Sistem pertama adalah memberlakukan satu tiket untuk seluruh destinasi pantai di Bantul. Artinya, wisatawan yang masuk dari pantai kawasan timur sampai barat hanya dikenakan satu kali retribusi tanpa pindah TPR. Desain kedua, akan dilakukan pemindahan TPR di titik-titik potensial. “Masih kami diskusikan dengan komisi B, kami sedang menginventarisasi titik mana yang memungkinkan pemindahan secara efektif,” bebernya.

Namun, skema pertama menjadi opsi utama. Sebab bila pembangunan JJLS rampung 2022 dan segera difungsikan pada 2023, ada kemungkinan Dinpar Bantul belum siap. “Sedang kami rumuskan yang paling efektif yang mana. Terpaksanya, kalau memang 2023 JJLS berfungsi dan kami belum siap memindahkan TPR, solusinya, masuk kawasan pantai hanya satu kali retribusi,” tandasnya. (fat/pra)

Bantul