RADAR JOGJA – Wisatawan di Pantai Parangtritis, Kretek, Bantul, membeludak. Meskipun kawasan ini masih ditutup selama pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berlevel. Ratusan bus dari luar kota bahkan lolos dari penyekatan.

Koordinator UKP Parangtritis Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul Suranta mengungkap, bus yang lolos masuk ke Pantai Parangtritis sebelum jam pemberlakukan penyekatan. Untuk diketahui, pemberlakukan penyekatan dilakukan sejak pukul 08.00 hingga 18.00.

“Dari pengamatan saya, pengunjung di Parangtritis sudah banyak sekali. Khususnya bus, datangnya mulai pukul 03.00 dini hari,” ungkap Suranta saat dihubungi Radar Jogja Minggu (3/10).

Menurut perkiraan Suranta, bus yang lolos penyekatan petugas gabungan jumlahnya ratusan. Selain itu, kendaraan pribadi seperti mobil dan motor juga banyak yang berhasil lolos penyekatan. “Sudah banyak sekali bus masuk, ratusan. Mobil pribadi dan motor juga sudah banyak sekali yang bisa masuk, mereka datang sebelum pukul 08.00,” jelasnya.

Tingginya animo masyarakat untuk berwisata ke Pantai Parangtritis disebut jadi penyebab membeludaknya kunjungan. Sehingga masyarakat mencari-cari celah untuk dapat berwisata ke pantai. “Mungkin warga sudah bosan di rumah. Jadi mereka terpaksa (mencari celah, Red) meskipun tadi ada penyekatan oleh petugas gabungan. Tetap berupaya masuk,” ujarnya.

Petugas gabungan bahkan melakukan penyekatan di dua titik. Satu regu berjaga di selatan Jembatan Kretek untuk menghalau bus. Sementara satu regu berjaga di depan tempat pemungutan retribusi (TPR). “Selain warga Parangtritis dan angkutan Jogja-Parangtritis diminta untuk putar balik. Tapi di jam istirahat, pas makan siang dan Salat Duhur, petugas istirahat. Jadi ada yang bisa masuk,” bebernya.

Jalan tikus menuju Pantai Parangtritis pun ramai dilewati wisatawan. Utamanya wisatawan yang nekat berkunjung tapi terkena cegat petugas gabungan di selatan Jembatan Kretek. “Kalau yang disuruh putar balik di TPR, relatif nggak ada jalan tikusnya,” sebutnya.

Masih ditutupnya obwis Pantai Parangtritis, tentu membuat petugas tidak dapat melakukan pemungutan retribusi. Hal ini menjadikan pendapatan asli daerah (PAD) Bantul menguap. Padahal, setidaknya sektor pariwisata di Bantul menyumbang sekitar Rp 200 juta tiap akhir pekan. “Sekarang sudah sekitar tiga sampai empat bulan tidak dilakukan,” sesalnya.

Sebelumnya, Kepala Dinpar Bantul Kwintarto Heru Prabowo membeberkan, dinasnya menyiapkan proposal usulan pembukaan obwis sepanjang pantai selatan (Pansela). Usulan diserahkan ke Sekretariat Daerah (Setda) Bantul untuk mendapat verifikasi. “Nanti yang akan mengusulkan ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) adalah bupati Bantul,” jelasnya.

Pemkab Bantul menilai, pelaku wisata di Pansela terdampak cukup parah akibat PPKM. Hal itu yang melatarbelakangi diajukannya Pansela jadi obwis uji coba pembukaan dalam masa PPKM. “Mata pencaharian sebagian besar warga Pansela adalah pelaku pariwisata, bukan pekerjaan lain,” sebutnya.
Pertimbangan lainnya, Pansela telah bekerjasama dengan sebuah bank dalam pembayaran non-tunai. Pansela pun didukung jaringan koneksi internet yang bagus. Sehingga memudahkan wisatawan dalam mengakses aplikasi Peduli Lindungi. “Sebanyak 4.000 pelaku pariwisata di Pansela juga sudah vaksin,” tegasnya.

Terjaring Razia, Dipaksa Putar Balik

MASIH TUTUP: Calon wisatawan terjaring razia penyekatan di Mulo, Wonosari dan diminta putar balik.(GUNAWAN/RADAR JOGJA)

Dari Gunungkidul di laporkan, sampai saat ini belum ada kebijakan baru mengenai penutupan kawasan objek wisata. Namun masih saja ada calon wisatawan nekat masuk. Terbukti, mereka terjaring razia petugas dan terpaksa putar balik.

Akhir pekan kemarin petugas gabungan menggelar operasi di sejumlah titik. Targetnya kendaraan pelat luar daerah. Razia dilakukan siang dan malam, bahkan dini hari. Selalu saja ada yang terjaring dan diminta menghentikan perjalanan dan putar haluan.

Kasubag Humas Polres Gunungkidul Iptu Suryanto mengatakan, dalam razia di Rest Area Bunder, dilakukan dini hari sekitar pukul 03.00. Penyekatan selama dua jam saja terdeteksi ada gelombang calon wisatawan berdatangan. “Melibatkan 24 personel. Penyekatan dilakukan sejak pukul 03.00 sampai dengan 05.00,” kata Suryanto saat dihubungi Minggu (3/10).

Dia menjelaskan, dari hasil penyekatan didapati roda dua dan roda empat hendak menuju tempat wisata di Bumi Handayani. Terdapat roda empat 16 unit dan roda dua 15 unit dihentikan dan tidak boleh meneruskan perjalanan. “Diputar balikkan agar tidak melanjutkan ke tempat wisata,” ujarnya.

Pada razia siang harinya, puluhan kendaraan juga terjaring operasi penyekatan. Rinciannya, 20 roda empat dan 25 roda dua. Dalam kesempatan itu petugas juga memberikan teguran kepada 30 pengguna jalan. Satlantas Polres Gunungkidul  menggelar Operasi Patuh Progo, targetnya pengetatan terhadap protokol kesehatan (prokes) dan kepatuhan UU lalu lintas (lalin) pengguna jalan.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Gunungkidul AKP Martinus Grivianto Sakti mengatakan, selain operasi penyekatan juga digelar Operasi Patuh Progo 2021.  Berlangsung sejak 20 September sampai dengan 3 Oktober 2021. “Bertujuan untuk mendisiplinkan masyarakat terhadap prokes dan UU lalin,” kata Griavinto.

Dia meminta kepada masyarakat agar menaati peraturan. Razia prokes digencarkan demi mengantisipasi munculnya klaster baru penularan Covid -19. Dalam operasi nantinya segala bentuk kegiatan  berpotensi memicu penularan vurus korona menjadi target penertiban.

Di bagian lain,  Koordinator SAR Satlinmas Wilayah I Gunungkidul Sunu Handoko mengatakan, biasanya calon pengunjung berdatangan setiap akhir pekan. Oleh karena itu penyekatan dilakukan 24 jam full. Setiap pagi hari pukul 05.00-06.00 selalu dilakukan patroli pantai.

“Jika lolos dalam penyekatan, kami juga menggelar razia di kawasan pantai. Bersama dengan tim gabungan meminta pengunjung meninggalkan lokasi,” kata Sunu. (fat/gun/laz)

Bantul