RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik masyarakat. Kesehatan sosial masyarakat pun turut terganggu. Lantaran aktivitas di ruang publik terbatasi. Sementara energi masyarakat, khususnya remaja yang sedang bertumbuh, secara psikologis membutuhkan aktualisasi diri.

Ketua Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) Bantul, Muhammad Zainul Zein menuturkan, diperlukan solusi terbaik. Dalam kaitannya menentukan kebijakan terhadap anak. Salah satunya, dalam gelaran pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT). Menurutnya, tidak mungkin membiarkan anak terus-menerus terjebak dengan model pendidikan yang tidak jelas. “Jadi boleh berbicara kesehatan dan kehati-hatian. Tapi juga harus memperhatikan nasib anak juga,” ujarnya dihubungi Radar Jogja kemarin (3/10).

Energi remaja yang sedang bertumbuh harus mendapat ruang aktualisasi yang benar. Sebab bila tidak tersalurkan dengan benar, justru dapat memicu munculnya penyimpangan. Seperti tindak kekerasan jalanan yang melibatkan anak. Contoh lainnya adalah kekerasan seksual dan angka pernikahan dini. “Meskipun belum ada kajian, terkait dampak pandemi terhadap selama dua tahun. Sepertinya ada korelasi pandemi terhadap angka kekerasan terhadap anak, ada ke arah sana,” tegasnya.

Dalam pendampingannya bersama UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, Zainul menemukan adanya temuan kasus kekerasan terhadap anak yang tinggi. Tercatat sebanyak 141 kasus kekerasan yang terlapor. “Tapi itu angka untuk kekerasan perempuan dan anak. Tapi sebenarnya cukup tinggi, jumlah kekerasan anak di Bantul 2021,” ucapnya.

Terbaru, kasus kekerasan yang melibatkan anak dilaporkan oleh Kapolres Bantul, AKBP Ihsan. Dalam kasus ini anak bahkan menjadi pelaku. Ada empat anak pelajar SMP yang kedapatan membawa sajam berupa celurit dan gergaji besar. Mereka adalah YP, 16; AEJ, 15; RKM, 15; dan MRM, 17. Keempatnya berhasil diciduk saat akan melakukan tawuran pada Jumat (1/10) pukul 02.00 dini hari. “Anak-anak dengan begitu mudahnya membawa barang seperti ini. Kasihan, ini generasi penerus malah seperti ini,” sesalnya.

Berdasar pengakuan saat interogasi, keempat remaja ini membawa sajam untuk digunakan tawuran antar kelompok geng. Empat remaja yang diamankan menamakan diri Geng Sebasa (SMP Bambanglipuro Satu). Mereka membuat temu janji untuk duel dengan Geng Esperose (SMP Loro Sewon). “Sangat miris. Anak-anak yang seharusnya, pukul 02.00 dini hari menjelang subuh. Mereka tawuran mempersiapkan alat seperti ini. Untung anggota kami melaksanakan blue light patrol,” kata Ihsan.

Terjadinya janji duel, ternyata berawal dari media sosial (medsos). Empat remaja yang diamankan ini merasa tertantang saat diejek oleh geng lawannya. “Selama pembelajaran online, anak jadi punya HP. Tapi mereka juga mengakses medsos untuk saling ejek kemudian jadi saling tantang. Akhirnya terjadi kesepakatan untuk bertemu,” jelas Ihsan.

Dibutuhkan Ruang Aktualisasi Remaja

Bagi seorang skaters perempuan, Bunga Dwi Nawang Wulan. Perempuan 22 tahun itu menyayangkan pembatasan kegiatan skate di ruang publik. Sebagai skaters perempuan, dia kerap diremehkan. Namun Bunga tidak dapat unjuk diri, lantaran turnamen ditiadakan sejak pandemi Covid-19.

Bukan cuma kegiatan turnamen yang dinihilkan. Aktivitas Bunga dan teman-teman komunitasnya pun menyempit, dengan adanya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). “Dulu nih ya, aku bisa main sama anak-anak Komunitas Denggung Skateboarding sampai jam 12 malam. Sekarang jam delapan malam sudah keincer Satpol PP. Nah boro-boro mau ada turnamen,” keluhnya saat ditemui Radar Jogja belum lama ini.

Perempuan asli Palu, Sulawesi Tengah yang berdomisili di Sedayu, Bantul ini menyayangkan hal itu. Lantaran skateboarding seharusnya dapat menjadi arena menyalurkan adrenalin dengan cara yang positif. “Seharusnya pelaku kekerasan jalanan itu tahu, bagaimana mendapatkan rasa sakit tapi di hal yang positif. Salah satunya melalui skate. Ayo main skate, adrenalinnya dapet banget,” ajaknya.

Seniman yang pernah menggelar pameran dengan tajuk The Museum Of Lost Space, Yahya Dwi Kurniawan pun membenarkan. Hal yang paling dibutuhkan bagi pelaku kekerasan jalanan serta para korbannya ruang ekspresi. Sebab umumnya pelaku kekerasan jalanan adalah remaja di bawah umur.

Karena itu, pria 28 tahun ini menyesalkan pandangan umum yang berlaku di masyarakat. Di mana pelaku tindak kekerasan jalanan harus dibalas dengan kekerasan. “Kalau ada isu kekerasan jalanan. Konteksnya selalu dimasa, dihajar. Benarkah kekerasan harus dihentikan dengan kekerasan? Aku enggak setuju,” tegas Yayak, sapaan akrabnya.

Bersama dengan Prince Claus Fund, pria asli Magelang, Jawa Tengah ini pernah membuat penelitian. Bahkan, Yayak berdiskusi langsung dengan pelaku kekerasan jalanan, juga beberapa geng yang ada di Jogja. “Ada gerakan melawan kekerasan jalanan, ketika cuma diomongin dan nggak melakukan apapun. Itu tidak menyelesaikan masalah,” sebutnya.

Dari berbagai diskusi dan perbincangan, Yayak kemudian menemukan persamaan. Para pelaku kekerasan jalanan mengaku tidak memiliki ruang sebagai pengakuan eksistensi. “Terus caraku gimana? Dengan karya apapun, makanya aku mengajak kolaborasi mereka. Aku mencoba memberi ruang untuk mereka,” ucapnya.

Salah satu peneliti dari Prince Claus Fund sekaligus kurator pameran The Museum Of Lost Space, Arham Rahman pun menyebut klitih merupakan fenomena sadisme. Di mana fenomena tersebut tidak datang dengan sendirinya. “Tidak mungkin, ada orang yang menjadi sadis atau memiliki gejala sadistik dengan sendirinya. Pasti ada dorongan yang membuat mereka seperti itu. Seperti pengalaman traumatis di-bully di sekolah atau lingkungan keluarga,” jelas pria asli Makassar, Sulawesi Selatan itu.

Mengejutkan, dari hasil riset ditemukan, mayoritas pelaku kekerasan mengalami trauma di lingkungan keluarga. “Misalnya ketika bapaknya mengancam akan membakar dia. Dia jadi sangat trauma dengan api. Terus melihat, bapaknya sering memukuli ibunya. Ada fenomena semacam itu dan menular ke anak. Padahal kebanyakan mereka dari keluarga mapan,” ungkapnya. (fat/pra)

Bantul