RADAR JOGJA – Selayaknya manusia sadar, pembangunan yang dilakukannya telah menggusur keberadaan suatu habitat. Jika ini dibiarkan maka ekosistem akan terseret pada kerusakan.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Kemunduran ekosistem, salah satunya mulai dirasakan di sekitar Pantai Goa Cemara, Gadingsari, Sanden, Bantul. Jumlah penyu yang mendarat ke pantai untuk bertelur berkurang. Beberapa tanaman endemi sudah tak lagi ditemukan. Dan itu yang dikeluhkan sesepuh kepariwisataan Pantai Goa Cemara, Sadiyo.

Mengenakan setelan kaos tapi rapi, kakek kelahiran tahun 1957 ini menghampiri rombongan pengunjung yang berhasil masuk ke Pantai Goa Cemara. Rambutnya sudah memutih, tapi jalannya tetap tegap. “Di sini itu pelakunya seperti ketoprak tobong,” ujarnya, membuka perbincangan.

Ia lalu menjelaskan, pengurus pariwisata tidak hanya fokus pada satu bidang. Mereka berlaku pula sebagai nelayan, petani, sekaligus penjaga konservasi penyu. Namun, bagi Sadiyo itu tidak penting. Selama segenap warga yang menggantungkan penghidupan di Pantai Goa Cemara memperhatikan ekosistem. “Saya mengharapkan ada penyelamatan ekosistem. Tapi ke depan jangan hanya fokus pada penyelamatan penyu,” ujarnya tegas.

Sadiyo tidak menampik, pengembangan pariwisata turut mengambil peran dalam kerusakan ekosistem. Lantaran kerap dijumpai pelaku wisata, utamanya wisatawan yang bertindak tanpa peduli lingkungan. “Ternyata banyak pengunjung sak senenge dewe (sesuka hati, Red), tidak peduli dengan ekosistem. Kadang merusak,” ketusnya.

Menunjuk pada ranting cemara yang patah di sekitar lokasi Konservasi Penyu Pantai Goa Cemara, Sadiyo teringat momen perayaan tahun baru. Sebelum pandemi Covid-19, Pantai Goa Cemara penuh pengunjung. Tapi mereka justru menyalakan api unggun dengan mematahkan ranting cemara secara serampangan. “Malam tahun baru, ini (menunjuk pohon cemara, Red) dicokleki untuk buat api unggun. Itu sepanjang pantai kayak gitu itu,” bebernya kesal.

Contoh lainnya pengunjung duduk di atas gorong-gorong yang diletakkan secara terlentang oleh pengurus. Sedianya, gorong-gorong dimaksudkan sebagai tempat sampah. Tapi pengunjung yang menduduki gorong-gorong justru membuang sampah di sekitarnya. “Makan, sampahnya tidak dibuang di situ. Malah dibuang ke luar. Diomongi, katanya kan ada petugasnya pak. Iki piye,” keluhnya sambil memegangi kepala.

Hal lain yang turut dikhawatirkan oleh pria 64 tahun ini adalah menurunnya jumlah penyu yang mendarat ke Pantai Goa Cemara. Namun ia tidak tahu pasti jumlah perbandingan turunnya jumlah penyu yang mendarat tiap tahun.
“Penyu itu takut dengan cahaya. Itu pengaruh. Penyu maunya tempat gelap. Nggak ada cahaya dan manusia di situ. Makin ke sini, makin berkurang. Pemancing sekarang siang malam ada terus,” sesalnya.

Selain itu, Sadiyo turut mengkritisi hilangnya beberapa tanaman endemi di Pantai Goa Cemara. Seperti daun pandan mulai sulit ditemukan di pantai yang sampai saat ini masih ditutup akibat pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) itu. “Tumbuhan endemi tergusur oleh tumbuhan pandemi. Dulu di sini banyak pandan, sekarang hampir punah,” ungkapnya.

Sementara biji buah mrunggi yang dulu tersebar di Pantai Goa Cemara, sejak tahun 1980 sudah tidak ada lagi. Padahal tanaman itu berguna bagi kesehatan. Tanaman itu memiliki nilai ekonomi. “Saya lihat di televisi tanaman itu ditemukan di Sulawesi, dijual dengan harga per kilogram Rp 50 ribu. Padahal di sini dulu ada,” sebutnya.

Kini tanaman yang mulai disasar adalah widuri. Di mana daunnya dipetik oleh warga sekitar untuk dijadikan pakan jangkrik. “Nanti akan terjadi seperti itu, sesuatu yang punah. Baru mereka tahu,” ucapnya.

Untuk itu, Sadiyo berharap adanya kepedulian instansi terkait untuk melestarikan ekosistem. Salah satunya dengan pembangunan lokasi cagar alam pantai. “Saya menginginkan itu, tapi belum ada warga yang peduli. Sebab wisatawan dan masyarakat masih butuh diedukasi,” tandasnya. (laz)

Bantul