RADAR JOGJA – Jumlah murid TK dan PAUD turun lebih dari 60 persen. Pandemi Covid-19 yang memaksa anak untuk lebih banyak di rumah. Hal itu mengorbankan aktivitas pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. Sebagian orang tua murid lantas memilih menghentikan pendidikan buah hatinya.

Salah satu orang tua yang menghentikan pendidikan anaknya di jenjang TK adalah Ani. Perempuan 28 tahun ini sempat mendaftarkan anaknya masuk TK. Namun dia justru menghentikan pendidikan putri sulungnya karena merasa sia-sia. “Lah aku daftarin sekolah, yang mengajar aku sendiri. Ya mending, besok langsung aku daftarin SD,” cetusnya kepada Radar Jogja kemarin (20/9).

Opini Ani tentang buah hatinya itu mewakili beberapa ortu lain. Salah satu yayasan yang bergerak di bidang TK dan PAUD di Tamanan, Banguntapan, Bantul pun mengeluh. Murid yang bertahan di sekolahnya tinggal sepertiga, dari jumlah total murid sebelum pademi. “Sekarang berkurang sekali. Kami saat ini hanya memiliki 32 siswa. Biasanya kami memiliki 80-90 siswa,” beber salah seorang pengelola yayasan yang enggan disebutkan namanya.

Pengelola pernah bertanya, alasan ortu memilih tidak melanjutkan pendidikan buah hatinya. Ternyata pertimbangannya diakibatkan oleh pemikiran ortu yang menyepelekan pendidikan TK dan PAUD. Tapi ada beberapa ortu yang memilih memindahkan anaknya ke TK dan PAUD di tempat lain. “Jadi ada ortu yang lebih memilih TK dan PAUD lain yang sudah bisa menggelar PTM. Sementara kami baru melaksanakannya bulan ini,” paparnya.

Perlu diketahui, yayasan ini terpaksa menggelar pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) kendati belum memiliki izin. Hal itu dilakukan, berdasar dorongan ortu murid yang ingin anaknya segera mendapat bimbingan langsung dari guru. Menurut dia, ada tuntutan dari wali murid. Sudah dua tahun tidak sekolah, akhirnya wali murid sendiri meminta dan menyampaikannya. “Kami buatkan surat pernyataan bahwa ortu bersedia, dalam artian tatap muka terbatas kami lakukan. Jadi jika terjadi sesuatu kami kembalikan ke wali murid,” jelasnya.

Kendati belum mengantongi izin, gelaran PTMT yayasan ini mendapat pendampingan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul. Terutama dalam pengawasan penerapan protokol kesehatan (prokes) dan penyiapan verifikasi TK dan PAUD yang dibinanya. “Kami sudah mengajukan verifikasi ke Disdikpora untuk mendapat rekomendasi menggelar PTMT,” jabarnya.

Plt Sekretaris Disdikpora Bantul, Tatik Windari menyayangkan. Ada ortu yang memutuskan untuk menghentikan pendidikan anaknya di jenjang TK dan PAUD. Sebab anak yang terdaftar di TK dan PAUD resmi memiliki catatan di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Nasional. “Sehingga anak mendapatkan haknya sebagai seorang peserta didik atau siswa yang secara legal dan terdaftar dari sekolah,” jelasnya.

Selain itu, selama menempuh jenjang TK dan PAUD, anak mendapat materi pendidikan yang terstruktur. Berikut materi stimulasi motorik halus dan kasar yang berirama. Hal itu, belum tentu diketahui oleh semua ortu yang belum tentu memiliki pemahaman terkait pondasi struktur pembelajaran anak.

Tatik turut menyinggung pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang masih diterapkan di TK dan PAUD. Hal itu dikarenakan Disdikpora Bantul baru mendapat instruksi verifikasi sekolah untuk menggelar PTMT pada tanggal 15 September lalu. Verifikasi dilakukan untuk mengecek kesiapan TK dan PAUD. Ada enam daftar kesiapan dari Kemendikbud Ristek. “Sanitasi kebersihan, tersedia akses layanan kesehatan, mampu wajib masker, punya thermogun, melakukan pemetaan warga sekolah, dan memiliki persetujuan komite atau perwakilan ortu,” sebutnya. (fat/pra)

Bantul