RADAR JOGJA – Bumi Projotamansari genap berusia 190 tahun. Tapi momentum perayaan hari lahir (harlah) harus ditunda. Mengingat tumpukan pekerjaan rumah (PR) Pemkab Bantul dalam penanganan pandemi Covid-19.

“Pelaksanaan (Harlah ke-190 Bantul seharusnya dilakukan, Red) tanggal 20. Tapi hari-hari ini kami masih disibukkan oleh penanggulangan pandemi di lapangan,” beber Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat ditemui di rumah dinasnya, Senin (19/7).

Perayaan harlah kemudian diundur satu pekan, pada Senin (26/7). Rangkaian seremonial yang mengundang kerumunan seperti karnaval dan jaring aspirasi, ditiadakan. Termasuk kunjungan dan ziarah ke rumah atau makam mantan bupati dan wakil bupati Bantul.

Rangkaian perayaan rencananya digelar secara sederhana. Di mana pertemuan juga akan digelar secara virtual. “Pertemuan zoom meeting. Jadi hanya dengan potong tumpeng dan doa bersama dengan seluruh pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), Forkopimda, panewu, lurah, pamong, secara virtual,” sebutnya.

Melalui kesempatan ini Halim berharap terjadi sinergitas dalam penanganan Covid-19, sehingga semua aparatur sipil negara (ASN) yang dipimpinnya dapat mendampingi Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul. “Semua OPD kami minta mendampingi dan membantu Dinkes mempercepat vaksinasi dan kegiatan penanganan lain,” ucapnya.

Senada, Ketua DPRD Bantul Hanung Raharjo mengharap tampaknya progres penanganan Covid-19. Biarlah momentum Harlah Bantul ke-190 menjadi puncak pandemi Covid-19 di Bantul. “Setelah itu, menuju penurunan di Bantul. Semoga ini puncaknya dan selanjutnya penurunan kasus di Bantul,” harapnya.

Untuk itu, Politisi PDIP ini mengimbau warga Bantul menerapkan 3M dan berani menjalani 3T. “Kami imbau masyarakat tetap menerapkan prokes melalui 3M. Kemudian 3T harus dijalankan. Dengan keikhlasan dan kesadaran tinggi, sehingga apa yang dilakukan pemkab, keseriusannya bisa terwujud,” pintanya.

Khusus dalam penerapan 3T ditekankan, masyarakat untuk berani dan patuh. Sebab hal itu dapat mengurangi risiko tinggi akibat terpapar Covid-19. Sebab dengan menjalani 3T, tracing, testing, dan treatment, penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. “Tidak perlu takut, karena penanganan yang terlambat justru menimbulkan penumpukkan di RS dan gejala sudah berat,” jelasnya.

Hal itu dibuktikan sendiri oleh Hanung. Sebab, dia dan keluarganya merupakan penyintas Covid-19. Kedua orang tuanya yang merupakan lansia, bahkan memiliki komorbid dapat sembuh. Lantaran mendapat penanganan yang tepat dan dilakukan sejak dini.

“Saya isolasi mandiri (isoman), bapak-ibu ke RS. Ibu memiliki riwayat jantung, bapak diabetes melitus (DM) dan asma. Alhamdulillah karena treatment dari awal, jadi sembuh,” tandasnya. (fat/laz)

Bantul