RADAR JOGJA– Tidak ada aktivitas berarti di Pantai Depok, Bantul. Bukan hanya karena adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Terpengaruh cuaca, aktivitas kenelayanan jadi surut.

Memasuki area Pantai Depok, halaman parkir melompong. Beberapa ibu tampak berkumpul di satu pos, hanya bergulingan. Sementara sekretariat tempat pelelangan ikan (TPI), tertutup rapat. “Angin tinggi jadi nggak berani melaut. Ketinggian mencapai tiga meter,” ujar seorang nelayan di Pantai Depok, Epi Riyoko ditemui saat memperbaiki perahunya, Minggu (18/7).

Dipahami, fenomena paceklik menjadi agenda rutin tahunan. Sebab setidaknya terdapat tiga waktu dalam setahun di mana gelombang tinggi. “Tiap Juni-Juli tinggi, rutin tahunan. Satu tahun tiga kali paceklik,” bebernya tanpa menyebut dua periode lainnya.

Terhitung sudah dua minggu belakangan, pria 28 tahun itu tidak melaut. Kendati begitu, Epi tidak menekuni profesi lain. Meskipun dia memiliki istri dan dua anak yang harus dinafkahi. Epi merasa was-was jika harus meninggalkan kapalnya. “Ada tanggungan sih, ada perahu sendiri, milik pribadi. Jadi nggak bisa kerja lain-lain,” ujarnya.

Epi hanya mengharapkan uang tabungannya cukup, sampai angin kembali bersahabat. Sehingga dia dan nelayan lain dapat kembali melaut. “Sekarang, tidak ada pemasukan cuma begini (memperbaiki perahu, Red). Gelombang tinggi bisa sampai dua bulan,” katanya.

Tidak dapatnya nelayan turun melaut, turut berdampak pada pengusaha olahan ikan. Tidak tersedianya bahan, otomatis membuat pedagang olahan ikan tidak dapat berproduksi. “Nggak ada yang melaut. Kalau ada kami bisa jualan,” sebut ibu bertopi merah yang enggan namanya dikorankan.

Sekretaris Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah III, Asnan Riyanto membenarkan adanya gelombang tinggi. Ini terjadi sekitar satu minggu belakangan. Disebabkan oleh musim angin tenggara yang bertiup sepanjang Mei sampai Agustus selama musim kemarau. “Otomatis mempengaruhi gelombang tinggi air laut. Dilihat pun bisa, untuk arah angin dari tenggara otomatis gelombang air laut naik,” paparnya.

Angin tenggara membuat tinggi gelombang air laut naik, jadi sekitar tiga sampai lima meter. Normalnya gelombang air laut hanya dua sampai empat meter. Ditekankan, kejadian ini normal terjadi tiap bulan Mei sampai Agustus. “Tapi untuk intensitas gelombang bisa satu minggu sekali atau dua minggu full atau satu bulan full,” jelasnya.

Ciri-ciri gelombang tinggi akibat angin tenggara pun memiliki tanda. Salah satunya adalah banyak ubur-ubur di bibir pantai. “Termasuk sekarang banyak ubur-ubur di tepian pantai. Pengaruhnya dari angin tenggara. Tadi masih ditemukan satu atau dua ubur-ubur,” tandasnya. (fat/pra)

Bantul