RADAR JOGJA – Kepolisian Resor (Polres) Bantul merilis dua kasus pencabulan. Kedua kasus ini mirip, karena pelakunya adalah pria dewasa. Di mana korbannya merupakan anak laki-laki.

“Kami mengimbau orang tua untuk lebih memperhatikan buah hatinya. Termasuk anak laki-laki,” tegas Kapolres Bantul AKBP Ihsan dalam jumpa pers di Aula Wira Pratama, Polres Bantul kemarin (30/6).

Pada kasus pertama, pelaku merupakan seorang mahasiswa berinisial EK. Pemuda 22 tahun ini diduga melakukan pencabulan terhadap dua santri di pondok pesantren tempatnya menjadi musyrif. Semacam pengasuh di asrama ponpes agar santri kondusif. Perbuatan pemuda asal Lampung ini berlangsung sejak Desember 2020. “Kasus ini terungkap saat salh satu orang tua korban melapor pada kami tanggal 19 Juni,” sebutnya.

Kepolisian baru menerima satu laporan. Namun, kepolisian menduga setidaknya ada dua korban yang dicabuli EK. Masa tinggal EK selama tiga tahun di ponpesnya pun turut menjadi pertimbangan. “Ini masih terus kami dalami,” cetusnya.

Modus, pelaku dalam melancarkan aksinya adalah dengan bujuk korban dengan meminjamkan smartphone. Kemudian korban diminta tidur di ranjang, untuk kemudian dicabuli. Dengan modus yang sama, EK pun mencabuli santri lainnya. “Dari hasil pemeriksaan, pelaku merupakan korban sewaktu di ponpes di Lampung dan Palembang,” ungkapnya.

Sementara pada kasus kedua, pelakunya adalah AW. Pria 52 tahun ini berprofesi sebagai penjaga kuda. Pada sekitar Mei 2021, ada dua anak yang menginap di tempat AW bekerja. Kemudian salah satu kuda yang dijaga AW terlepas. Awalnya berniat membangunkan korban untuk mengejar kuda, tapi AW justru tersulut untuk melakukan pencabulan. “Pelaku ini punya istri dan anak satu berusia 22 tahun. Tapi pelaku pernah pacaran sama sesame jenis sejak SMP,” ungkap AKP Ihsan.

Dalam pengakuannya, EK berdalih refleks melakukan pencabulan karena perbuatan tersebut terlintas di pikirannya. Dengan alasan EK pernah tertarik kepada perempuan. EK pun meklaim baru dua kali melakukan pencabulan di ponpesnya. “Tidak diiming-imingi. Saya tidak pernah memaksa dan mengancam,” kata dia.

Pernah menjadi korban pelecehan, EK kembali berdalih melakukan pencabulan hanya karena pikiran tersebut terlintas di kepalanya. Dia mengelak, perbuatannya merupakan sebuah bentuk balas dendam. “Menyesal tentu, saya juga bertekad untuk ke depannya lebih baik,” ucapnya.
Sementara AW mengaku teringat kenangan dan momen di masa SMP-nya. Kala itu, dia memiliki kekasih yang merupakan seorang mahasiswa. “Nafsu saya naik, mengingat masa lalu,” ucapnya.

Banit PPA Satreskrim Polres Bantul Aipda Mustafa Kamal menambahkan, AW pun diduga melakukan melakukan pelecehan terhadap pemuda sekampungnya. Modusnya dengan mengajak korban minum minuman keras. Setelah korban mabuk, barulah AW melancarkan aksinya. “Kakek ini juga pernah memiliki pacaran sesama jenis pada tahun 2008. Artinya saat dia sudah menikah,” bebernya.

Akibat perbuatannya, EK dan AW dikenakan Pasal 82 Ayat (1) Jo 76E UU RI No 17/2016 tentang Penetapan Perpu No 1/2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU RI No 23/2002 tentang perlindungan anak. Mereka terancam dipidana penjara paling singkat 5 tahun dn paling lama 15 tahun.

Aipda Mustafa turut mengungkap angka kekerasan terhadap anak, khususnya kekerasan seksual, terus naik. Kenaikan terjadi sejak 2020 saat pandemi Covid-19 mulai masuk di Bumi Projotamansari. “Bisa ada kaitannya karena pandemi,” ujarnya.

Guna menanggulangi hal ini, kepolisian melakukan koordinasi bersama pihak terkait. Salah satunya adalah pengurus ponpes dan Kementerian Agama RI. “Membahas ini, soalnya sudah ada beberapa kasus yang kami tangani di ponpes. Jadi sistem pengawasannya dari kepengurusan dan dari lingkungan. Nggak hanya di pondok, tapi juga sekolah,” tandasnya. (fat/bah)

Bantul