RADAR JOGJA – Rumah ibadah di Bantul kembali menyusun diri. Menyikapi tingginya lonjakan penularan Covid-19 di Bumi Projotamansari.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran merupakan salah satu rumah ibadah yang mengambil langkah besar. Lantaran meniadakan peribadatan tatap muka sejak hari ini (26/6) sampai 4 Juli mendatang. Sebuah kebijakan yang merujuk pada SE Menteri Agama No 13/2021 tentang Pembatalan Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadat.

“Mulai minggu ini, peribadatan tatap muka ditiadakan,” ujar Pastor Paroki Gereja Ganjuran FX Krisno Handoyo kepada Radar Jogja kemarin (25/6).
Intinya, gereja dengan arsitektur indische ini tidak menggelar peribadatan yang bersifat mengumpulkan umat. Kendati jumlahnya hanya sekitar 50 orang. Peribadatan selanjutnya akan kembali seperti masa awal pandemi, yaitu digelar dengan sistem streaming atau dalam jaringan (daring) lagi.

“Ditutup kan lebih berkaitan untuk berupaya agar tidak terjadi klaster. Tapi kami juga memanfaatkan penutupan sebagai (jadwal, Red) sterilisasi,” tutur Romo Kris, sapaan akrabnya.

Kebijakan yang diambil gereja pun turut memperhatikan Instruksi Bupati Bantul No 15/Instr/2021 tentang Perpanjangan Kesembilan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro di Kabupaten Bantul untuk Pengendalian Persebaran Covid-19. Sekaligus memperhatikan wilayah teritorial Gereja Ganjuran yang berada dalam zona merah dan oranye.

Gereja tertua di Kabupaten Bantul ini digunakan oleh enam kapanewon (kecamatan). Empat di antaranya masuk zona merah. Sementara hanya dua yang masuk zona oranye secara epidemiologi persebaran Covid-19. “Menurut aturan, merah dan oranye ibadahnya dilakukan di rumah masing-masing,” beber Romo yang sebelumnya mengabdi di Gereja ST Ignatius Magelang itu.

Mempertimbangkan lokasi yang berada di ruangan terbuka, gereja yang merupakan bekas Pabrik Gula Gondanglipuro ini tetap memberi kesempatan bagi peziarah. Umat diperkenankan melakukan ziarah pribadi ke Candi Hati Kudus Tuhan Yesus. Namun, gereja menerapkan sistem buka tutup.

Ziarah dapat dilakukan dua hari, kemudian dua hari berikutnya kegiatan ziarah ditutup. “Tetap dibatasi, tapi peziarah sudah seminggu ini tidak banyak,” ujar pria 55 tahun itu.

Sementara itu, Masjid Agung Manunggal Bantul tetap menggelar ibadah salat Jumat. Lantaran lokasi masjid tidak berada di tengah permukiman penduduk. Sehingga masjid tidak terkena zonasi epidemiologi.

Ketua Takmir Masjid Agung Manunggal Saebani menegaskan, masjid menerapkan protokol kesehatan (prokes). Pengurus telah memasang penanda jaga jarak. Sebelum memasuki area masjid, petugas melakukan pengecekan suhu terhadap jamaah. Di samping jamaah yang wajib menggunakan masker. “Untuk warga luar daerah tidak kami perkenankan masuk. Kami minta hanya di serambi,” sebut pria yang juga menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bantul ini.

Sterilisasi masjid dilakukan pada Kamis malam. Mengingat pada keesokan harinya jamaah yang masuk ke masjid akan banyak. Sterilisasi kembali dilakukan usai salat Jumat. “Disinfektan sudah kami siapkan dan masih banyak. Semua pengurus masjid juga sudah divaksinasi,” ungkapnya. (laz)

Bantul