RADAR JOGJA – Gelombang air laut terpantau tinggi. Hal ini mengakibatkan sejumlah nelayan tidak berani melaut. Akibatnya, aktivitas di tempat pelelangan ikan (TPI) Pantai Depok pun sepi. Lantaran tidak terdapat hasil laut yang disetor untuk diperjualbelikan.

“Sudah tiga hari ini saya libur,” sebut staf TPI Pantai Depok, Darmanto dihubungi Radar Jogja Minggu (20/6).

Nelayan semestinya dapat melaut, jika gelombang dan cuaca bersahabat. Meskipun bulan Juni kerap menjadi musim paceklik ikan. “Nelayan tidak turun melaut karena ombak yang besar. Nelayan itu yang penting ada ikan, gelombang, dan cuaca bersahabat pasti melaut,” cetusnya.

Mengakali minimnya pendapatan dari hasil tangkapan laut, beberapa nelayan pun beralih profesi. Agus Budianto misalnya, yang mengandalkan pendapatan dari berjualan cilok. “Yang penting bisa buat makan anak istri,” cetusnya.

Awalnya, profesi sebagai pedagang cilok dilakoni Agus sebagai tambahan. Namun saat musim paceklik, berdagang cilok menjadi sumber pendapatan utama. “Ya begini nasibnya nelayan, kalau lagi paceklik,” ujarnya.

Hendri Suryono justru memilih jadi petani. Pria 37 tahun itu memanfaatkan lahan kosong di sekitar Pantai Depok. Dia menanam tanaman hortikultura seperti cabai dan bawang merah. “Walaupun lahannya orang, tapi lumayan untuk bertahan hidup,” sebutnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membenarkan tingginya gelombang air laut. Melalui rilis di situs resminya, BMKG menyebut adanya potensi gelombang tinggi. Namun, gelombang pesisir Pulau Jawa terprediksi berketinggian 1,25 meter sampai 2,5 meter atau sedang mulai Senin (21/6). Prakiraan tersebut berlaku hingga tujuh hari ke depan. Tapi untuk tiga hari ke depan, terprediksi potensi hujan lebat disertai kilat atau petir terjadi di wilayah perairan Indonesia. (fat/pra)

Bantul