RADAR JOGJA – Ketua RT 92 Dusun Lopati Kalurahan Trimurti Kapanewon Srandakan Kuswanto meluruskan kabar yang beredar di masyarakat. Dia memastikan warganya tidak menolak pemakaman dengan standar protokol Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Fakta sebenarnya adalah ada kesalahan komunikasi antara pihak keluarga dengan tim Satgas Covid-19.

Kuswanto, menjelaskan keluarga pasien Covid-19 awalnya sudah menghubungi tim Satgas Covid-19. Sayangnya tidak ada respon hingga waktunya pemakaman. Alhasil warga berinisiatif memakamkan jenasah tanpa protokol yang baku.

“Jadi dari tengah malam sampai subuh sulit menghubungi petugas (Satgas Covid-19). Dari jam kematian sampai dikuburkan tidak ada petugas. Tidak ada arahan apapun,” jelasnya ditemui usai swab PCR di RT 92 Dusun Lopati, Sabtu (5/6).

Kuswanto menilai ada alur komunikasi yang salah. Walau begitu dari rumah sakit Panembahan Senopati telah memberikan informasi. Berupa jenasah yang berada dalam peti mati.

Alhasil warga berinisiatif memakamkan sesuai adat. Diawali dengan salat jenasah di depan pintu masuk makam. Kuswanto memastikan saat itu posisi jenasah tetap berada di dalam mobil ambulan.

“Ada miskomunikasi, dari warga berapa kali menghubungi satgas tidak ada respon lalu dari rumah sakit sudah ada rambu dipeti lebih aman. Menunggu satgas tak datang akhirnya kami masukan (kuburkan) sendiri,” katanya.

Penolakan, lanjutnya, bukan berada di wilayahnya, melainkan di RT 93. Kala itu ada warga yang meninggal dan akan dimakamkan dengan protokol Covid-19. Sayangnya beberapa oknum warga di RT tersebut menolak.

Dia memastikan warganya patuh akan protokol pemakaman Covid-19. Dia menyanyangkan satgas Covid-19 khususnya tim pemakaman datang ke wilayahnya. Sehingga menimbulkan persepsi bahwa warga RT 92 menolak pemakaman dengan protokol Covid-19.

“Kami ikut arahan, setelah ditunggu tidak ada yang ngaruhke bahkan sampai dikuburkan. Mereka (Satgas Covid-19) kesini justru sama polisi dan Kodim seperti mau interograsi. Kalau ada arahan kami jelas manut lah,” ujarnya.

Dia menegaskan warga di RT-nya tidak melakukan provokasi. Kejadian antara RT 93 dengan RT 92 sendiri berselang sekitar 2 pekan. Warga RT 93 meninggal dunia 18 Mei, sementara warga RT 92 meninggal dunia 1 Juni.

Kuswanto juga memastikan sosok oknum inisial A tidak ikut campur dalam pemakaman warganya. Diketahui bahwa sebelumnya ada sosok oknum warga Dusun Lopati berinisial A yang memprovokasi warga. Agar tidak melakukan pemakaman dengan protokol Covid-19 karena tak sesuai dengan syariat agama.

“Tapi memang ada rumor di masyarakat, cara pemakaman kurang sempurna. Ada kabar dimakamkan tapi gundukan tanah tidak sempurna lalu ditinggal. Rumor di masyarakat seperti itu,” katanya.

Dalam kesempatan ini dia juga meluruskan kesalahan informasi lainnya. Berupa penghadangan mobil ambulans oleh warga Dusun Lopati. Faktanya warga sedang menggelar salat jenasah di depan pintu makam.

“Itu bukan foto penghadangan itu foto salat jenasah dengan posisi jenasah masih didalam mobil ambulan,” ujarnya.(dwi/sky)

Bantul