RADAR JOGJA – Upaya pelacakan sebaran kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di RT 92 Dusun Lopati tak berjalan lancar. Terbukti dari Dari 25 warga yang terlacak berkontak erat dalam kasus penolakan pemakaman pasien positif Covid-19 tanpa protokol kesehatan di Bantul.

Hanya enam warga yang bersedia mengikuti tes swab PCR yang digelar Dinas Kesehatan pada Sabtu (5/6). Jumlah ini sudah termasuk keikutsertaan Kepala Dusun Lopati dan Ketua RT 92.

Panewu Srandakan Anton Yuliyanto mengakui tak mudah melakukan tracing kontak erat di wilayah tersebut. Padahal beragam pendekatan telah dilakukan. Hingga akhirnya hanya 6 warga yang ikut serta dalam uji swab PCR.

“Yang ikut ini dari keluarga. Tapi saya sampaikan kalau tidak bisa hari ini, akan dilayani di Puskesmas (Puskemas Srandakan),” jelasnya ditemui di Dusun Lopati Kalurahan Trimurti Kapanewon Srandakan Bantul, Sabtu (5/6).

Tentang data awal, 25 kontak erat, Anton menuturkan bukan target baku. Dia menuturkan data tersebut bersifat dinamis. Sehingga bisa terjadi perubahan selama tracing masih berjalan.

Data awal, lanjutnya, adalah data pengamatan tim lapangan. Berupa hasil tracing terhadap kasus awal. Untuk kemudian masuk dalam screening sebaran kasus Covid-19.

“Data dinamis karena belum terkonfimasi wawanvara dengan orang itu. Ini sambil terus konfirmasi dan pendekatan masih terus konfirmasi. Data ini bisa berkurang atau bertambah karena memang dinamis,” katanya.

Upaya swab PCR di Dusun Lopati sendiri adalah strategi jemput bola. Pada awalnya screening direncanakan berlangsung di Puskesmas Srandakan. Hingga akhirnya strategi berubah dengan pendekatan lebih intens.

“Kami sudah berupaya dengan jemput bola agar masyarakat bisa dekat dan tidak repot. Tidak ada upaya paksa, belum kesitu karena kami sifatnya pelayanan,” ujarnya.

Kepala Dusun Lopati Sutiyem telah melibatkan ketua RT di wilayahnya. Khususnya di wilayah episentrum sebaran Covid-19, RT 92 dan RT 93. Untuk melakukan pendataan kontak erat dan berlanjut dengan uji swab PCR.

Dari upaya awal ini terjaring 25 kontak erat. Sayangnya saat berlanjut uji swab PCR hanya 6 warga yang ikut serta. Sutiyem bersama Ketua RT 92 Kuswanto ikut serta dalam deteksi dini Covid-19 ini.

“Sudah dikoordinasikan, sudah berupaya masyarakat untuk ikut swab. Walaupun jumlahnya belum memuaskan tapi kami siap. Kedepannya dengan sabar agar tergugah lagi hidup prokes,” katanya.

Sutiyem juga mengklaim tidak semua warga RT 92 terlibat dalam pemakaman jenasah Covid-19. Mayoritas hanya datang dan melihat. Tidak melakukan kontak langsung saat pemakaman.

“Dari target 25 hanya ikut 6, itu hanya melihat tidak kontak langsung. Kalau jumlah sebenarnya saya tidak tahu,” ujarnya. (dwi/sky)

Bantul