RADAR JOGJA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul belum mendapat permintaan droping air. Kendati Bumi Projotamansari sudah memasuki musim kemarau.

“Mudah-mudahan permintaan air semakin berkurang,” cetus Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto kepada awak media Kamis (3/6).Dikatakan, wilayah pegunungan menjadi kawasan yang kerap mengajukan permohonan droping air. Namun, permintaan tersebut diharapkan berkurang. “Dulu daerah itu (pegunungan, Red) merata, sekarang mulai berkurang. Ini salah satu bukti. Apa yang menjadi masalah kekeringan bisa kami atasi dengan berbagai teknologi yang ada,” tambahnya.

Kendati begitu, BPBD Bantul tetap melakukan antisipasi. Sehingga jika sewaktu-waktu ada pengajuan dari masyarakat, sudah siap membantu. Termasuk berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lain. “Jadi silahkan sesuai prosedur, masyarakat mengajukan permohonan ke kami. Sesuai dengan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab, akan kami laksanakan,” ujarnya.

Salah satu wilayah rawan bencana di musim panas adalah Kalurahan Wukirsari.Lurah Wukirsari, Susilo Hapsoro pun menyadari tingginya potensi bencana di wilayahnya. Oleh sebab itu, kalurahan dengan 16 padukuhan itu memberikan alokasi khusus terhadap penanganan bencana. “Tiap tahun kami selalu mencadangkan (anggaran untuk penanggulangan bencana, Red), entah terpakai atau tidak,” tuturnya.

Disebutkan, anggaran penanganan bencana di Wukirsari jumlahnya hampir Rp 300 juta pada 2020. Dari dana yang tersedia, terpakai sebesar Rp 180 juta. “Tahun ini kami juga menganggarkan dengan jumlah yang sama, hampir Rp 300 juta,” bebernya.

Sementara realisasi penanggulangan bencana di Wukirsari sudah dilakukan dalam berbagai sektor. Contohnya dalam penanganan kekeringan saat musim kemarau. Di mana pada 2018 terdapat ribuan tangki air yang disetor ke Wukirsari. “Di 2020 sudah berkurang banyak, (jumlahnya menjadi, Red) hanya puluhan yang masuk ke Wukirsari. Target kami, dalam kekeringan 2021, sudah tidak ada lagi tangki yang masuk ke Wukirsari,” cetusnya.

Susilo mengaku optimis, karena mampu membuat tujuh sumur bor pada 2020. Selanjutnya sumur tersebut dikelola oleh APBKal Wukirsari. “Tinggal menambah sambungan ke masyarakat. Kekeringan sudah tertangani,” ucapnya. (fat/pra)

Bantul