RADAR JOGJA – Pihak keluarga dan sejumlah warga Trimurti, Srandakan Bantul mengambil alih pemakaman jenazah pasien Covid-19 Jumirah, 70. Pemakaman pasien positif itu dilakukan tanpa menggunakan protokol Covid-19

Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bantul dan FPRB Trimurti mendatangi Mapolres Bantul. Tujuannya untuk melaporkan oknum warga Lopati Trimurti, Srandakan Bantul berinisial A. Atas aksi provokasi pemakaman jenasah terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Alhasil prosesi pemakaman tidak berjalan sesuai protokol yang berlaku.


LAPOR:Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bantul dan FPRB Trimurti mendatangi Mapolres Bantul. Tujuannya untuk melaporkan oknum warga Lopati Trimurti, Srandakan Bantul berinisial A. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Kejadian ini terjadi Selasa pagi (1/6) tepatnya 07.00 di makam Lopati Trimurti. Jenasah sebelumnya adalah pasien yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul. Dalam perawatan tersebut, pasien telah terkonfirmasi positif Covid-19.

“Kalau pemulasaraan sudah jelas di rumah sakit. Lalu atas rekomendasi pemakaman juga dengan protokol Covid-19. Awalnya keluarga sudah menerima tapi diprovokasi salah satu oknum warga sehingga menolak,” jelas Ketua FPRB Bantul Waljito ditemui di Mapolres Bantul, Rabu (2/6).

Dasar penolakan karena warga menganggap  pemakaman dengan protokol Covid-19 tak sesuai dengan syariat agama. Perdebatan ini mulai muncul saat jenasah masih berada di rumah sakit. Hingga akhirnya oknum warga memaksa agar pemakaman berlangsung secara normal tanpa ada protokol Covid-19.

Waljito menilai aksi ini mencederai kinerja Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Berupa penolakan terhadap pemakaman. Bahkan lebih luas lagi tentang penerapan protokol kesehatan (prokes) Covid-19 dalam kehidupan sehari-hari.

“Alasannya tidak sesuai syariat Islam. Kalau alasannya itu padahal sudah jelas dengan adanya Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 bahwa seluruh pemakaman terkait Covid jika positif maka harus pakai prokes,” katanya.

Berangkat dari fakta ini, jajarannya sepakat melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bantul. Waljito menilai kepolisian memiliki andil besar dalam penegakan prokes Covid-19. Sehingga kejadian serupa tidak akan terulang kembali.

FPRB Bantul meminta kepolisian bertindak tegas atas kejadian ini. Diawali dengan pemanggilan oknum warga. Terutama yang melakukan provokasi atas proses pemakaman jenasah Covid-19.

“Kami petugas lapangan yang membantu, akan sulit saat dibenturkan dengan masyarakat yang menolak dan tidak percaya (Covid-19). Ada pihak tertentu atau oknum melalukan provokasi dan menciptakan narasi menyesatkan terkait kontra penanganan Covid-19,” ujarnya.

Berdasarkan catatan medis, sosok Jumirah sempat memeriksakan kesehatan ke klinik Pura Raharja Kulonprogo, Rabu (19/5). Hasilnya dinyatakan reaktif dan lanjut rujuk ke RS Panembahan Senopati Bantul, Kamis (20/5). Hasil tes PCR positif Covid-19 dengan komorbid jantung.

Sempat mendapatkan perawatan intens di ICU hingga akhirnya meninggal dunia Selasa (1/6). Pada awalnya keluarga menolak pemakaman dengan protokol Covid-19 walau akhirnya menerima. Hingga akhirnya terhasut oknum warga dan pemakaman berlangsung tanpa protokol Covid-19.

“Pemakaman sama sekali tanpa protokol. Tidak pakai masker, tidak ada jaga jarak dan tidak pakai sarung tangan. Di tempat pemakaman itu sama sekali tidak ada yang pakai masker,” katanya.(dwi/sky)

Bantul