RADAR JOGJA – Pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) masih bergantung pada pameran dalam pemasarannya. Padahal selama pandemi Covid-19 pameran tidak dapat digelar. Lantaran berpotensi menimbulkan kerumunan.

Salah satu pelaku UMKM yang mengeluhkan tidak adanya pameran adalah Suhartono. Sebelum pandemi Covid-19, pria 40 tahun ini rutin berangkat ke Jakarta untuk pameran. Bahkan difabel dengan tunadaksa ini minimal tiga kali, mengikuti pameran di Ibu Kota. “Sekarang tidak ada lagi,” keluhnya kepada awak media ditemui di Workshop Difabelzone.id, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Bantul belum lama ini.

Hartono, sapaan akrabnya, mandek pameran sejak adanya pandemi Covid-19. Itu jelas berdampak pada penjualan produk karya workshop-nya. “Selama pandemi (pendapatan, Red) terpengaruh. Nggak mati total, tapi jauh berkurang,” sebutnya.

Kendati begitu, warga Kulonprogo itu bersyukur, masih ada 10 toko yang menerima batik tulis karya workshop-nya. Selain itu 10 toko tersebut tetap buka selama pandemi. “Jadi kami produksi tote bag, masih laku,” ujarnya.

Untuk mengakali agar workshop tetap bergeliat, Difabelzone.id juga memasarkan produknya secara online. Momentum kebutuhan masyarakat pun turut dimanfaatkan. Semisal menjadikan kain batik sebagai masker atau souvenir pernikahan. “Karena pandemi, kami buat masker. Terus habis lebaran banyak yang menikah, kami terima pembuatan souvenir. Dari situ kami bisa jalan,” bebernya.

Pelaku UMKM lain yang mengeluh akibat tidak adanya pameran adalah Winarno. Ayah dua orang anak ini mengaku mendapat banyak ilmu dan jaringan dari pameran. Bahkan, pria yang akrab yang disapa Jarwo ini dapat mengirimkan produk ke Jepang setelah mengikuti pameran berskala internasional, seperti JIFFINA dan IFEX. “Ikut pameran itu menambah ilmu, sayang sekali gara-gara pandemi jadi ditiadakan,” ujar warga Botokenceng, Wirokerten, Banguntapan, Bantul itu.

Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian (DKUKMP) Bantul, Agus Sulistiyana menyadari, pelaku UMKM sulit memasarkan produknya. Lantaran masih bergantung pada penyelenggaraan pameran. Padahal selama pandemi Covid-19 pameran tidak dapat digelar karena berpotensi mengundang kerumunan.

Maka, DKUKMP Bantul tetap berusaha untuk menggelar pameran. Namun pameran diselenggarakan dengan tetap memperhatikan penerapan protokol kesehatan (prokes). “Kami akan gelar (pameran, Red), segera di Malioboro Mall. Cuma yang akan kami gelar produk craft, sebagian kecil makanan. (Pameran, Red) belum masal pengunjungnya,” cetusnya.

Selain pameran tersebut, DKUKMP kedepannya berencana menggelar dua pameran lain. Pameran dimaksudkan untuk menarik peminat lokal. Di samping itu, DKUKMP akan melakukan pendampingan dalam upaya digitalisasi pemasaran. “Kami beri pendampingan agar tidak hanya bisa mengandalkan pameran secara tatap muka tapi virtual promosi online juga,” paparnya.

Diperkirakan, ada sekitar 128 ribu UMKM di Bumi Projotamansari. Tapi baru sekitar 84 ribu yang terdaftar oleh DKUKMP. “Ini kami godog, yang memenuhi kurasi, akan kami masukkan ke marketplace. Sudah ada rapat bersama, antara Pemkab, bank rekanan, dan Diskominfo membahas ini,” tegasnya. (fat/pra)

Bantul