RADAR JOGJA – Edukasi masyarakat inklusi dapat dilakukan melalui pariwisata. Bumi Projotamansari menjadi salah satu wilayah yang berpotensi mengembangkannya. Bantul pernah mengalami gempa bumi dahsyat pada 2006. Menurut Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPK LIPI), gempa bumi Bantul 2006 merenggut 4.141 korban jiwa asal Bantul. Gempa bumi juga mengakibatkan 12.026 jiwa mengalami luka-luka.

Sebagian dari korban luka pun menjadi difabel.“Sudah seharusnya, wisata inklusi mendapat perhatian,” cetus aktivis difabel, Lidwina Wuri Akhdiyatni kepada Radar Jogja Selasa (1/6).

Bahkan perempuan 45 tahun tahun ini bukan hanya mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul. Melainkan Pemprov DIJ dengan keistimewaannya menjadi percontohan provinsi inklusi. “Pengennya saya, Jogja menjadi percontohan provinsi inklusi. Jalan di Malioboro yang jadi salah satu pusat pariwisata saja sudah mendukung difabel dengan tunanetra,” ujar perempuan yang akrab disapa Wina itu.

Menurut Wina pun banyak potensi yang bisa digali soal difabel. Salah satunya memberdayakan difabel dalam sektor pariwisata. Namun, Wina menilai, pemerintah belum memberi umpan balik yang nyata. “Daripada aku menunggu pemerintah dan aku nggak melakukan apa-apa kan konyol banget,” sebutnya.

Berawal dengan kolaborasi bersama tujuh difabel, Wina pun membentuk komunitas Difabelzone.id. Komunitas kemudian berkembang menjadi usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang bergerak di industri batik tulis. Bahkan melalui UMKM ini, difabel dengan kategori sedang ke berat dapat diberdayakan. “Sebenarnya difabel sangat urgent untuk diberdayakan dan diberi ruang untuk bisa mandiri. Kasian kalau mereka sampai cari makan dengan turun ke jalan,” bebernya.

Bukan cuma memproduksi batik tulis. Difabelzone.id juga memberikan kelas edukasi. Jadi wisatawan dapat belajar membatik bersama para difabel. “Itu saya sampai terharu. Ada wisatawan yang datang dan tidak mampu berbahasa Inggris dengan baik. Tapi para wisatawan ini bisa berinteraksi dengan para difabel dan tertawa bersama,” ungkapnya.

Wisata Rumah Jiwa pun menawarkan ragam pariwisata inklusi. Rumah ini bertujuan memberi pengalaman wisata yang berbeda dengan mengedukasi pengunjung mengenai ODGJ dan penyalahgunaan narkoba. Wisata ini juga menyuguhkan wisata sosial rohani dan mengemasnya dalam bentuk wisata tradisional.

Wisata Rumah Jiwa sendiri menempati gedung yang sama dengan Panti Hafara. Satu-satunya panti yang menangani ODGJ, lansia terlantar, dan mantan pengguna narkoba di DIJ. “Karena kami hadir untuk memanusiakan manusia sehingga menambah keistimewaan bagi Jogjakarta,” ujar Founder Panti Hafara dan Wisata Rumah Jiwa Chabib Wibowo.

Selain bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, dampingan Panti Hafara memang membutuhkan interaksi untuk bersosialisasi dengan masyarakat umum. “Kami memerlukan masyarakat luar untuk bersosialisasi dengan warga dalam rangka mempersiapkan warga dampingan untuk bisa beradaptasi saat kembali ke lingkungan keluarganya nanti,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Agus Budi Raharja pun mengungkap, ODGJ terbanyak di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) berasal dari Bantul. Terdapat 6.864 penambahan ODGJ di Bantul pada tahun 2017. Angka sempat menurun menjadi 6.844 penambahan ODGJ di tahun 2018. Kembali melonjak jadi 9.761 penambahan ODGJ di tahun 2019. “Sampai bulan Juni 2020, ada penambahan 4.193 di Bantul,” sebutnya. Padahal Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, jumlah ODGJ di DIJ merupakan tertinggi Nasional. Kendati DIJ duduk di peringkat delapan sebagai provinsi paling bahagia se-Indonesia di tahun 2019. Dengan angka harapan hidup tertinggi, yaitu 74 tahun. (fat/pra)

Bantul