RADAR JOGJA – Hak difabel atau disabilitas dalam berkarya dijamin pemerintah melalui UU No 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas. Namun, difabel yang masuk dalam kategori sedang ke berat tetap kesulitan diterima sebagai pekerja. Semangat kemandirian pun menjadi peneguh untuk melawan keadaan.

“Jujur saya samben ngelamar angel banget (setiap melamar pekerjaan susah sekali, Red),” keluh seorang tunadaksa bernama Suhartono saat ditemui di Workshop Difabelzone.id, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Bantul, Kamis (27/5). Ayah tiga anak ini beberapa kali memasukan lamaran, kebanyakan mendapat penolakan. Saat diterima, Hartono justru sulit memenuhi target perusahaan. Jadi, warga Kulonprogo itu pun gugur dalam masa training.

Harsono lantas mengikuti pelatihan membatik bagi difabel yang diselenggarakan Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) tahun 2017. Pelatihan itu diampu Lidwina Wuri Akhdiyatni. Di mana kemudian justru terjadi kolaborasi untuk membentuk usaha mikro kecil menengah (UMKM). “Di sini enak bisa mandiri, sistem kerja di sini pun semampunya,” sebutnya.

Contohnya Ika. Tangan perempuan dengan difabel Cerebral Palsy (CP) itu selalu gemetar akibat tremor. Bahkan dia menggunakan tangan kiri untuk membatik. Namun UMKM ini tidak mengejar target, sehingga Ika dapat produk yang dikerjakan semampunya.

“Seperti Mbak Ika, itu kalau disuruh kerja seharian nggak kuat, tangannya pasti sakit. Ini teman-teman butuh pendampingan terus, dan saling support,” beber Harsono.

Pekerja difabel di UMKM ini mayoritas berasal dari DIJ seperti Bantul, Kulonprogo, Sleman, dan Gunungkidul. Tapi ada juga yang berasal dari Jawa Tengah seperti Magelang, Salatiga, dan Boyolali. Mereka terdiri atas beragam kondisi, seperti tunadaksa, tunagrahita, CP, dan lainnya.

Total ada 25 difabel yang sudah menggabungkan diri di Difabelzone.id. “Kami kebanyakan direkomendasikan dari YAKKUM  karena kalau dari sana riwayat medisnya jelas. Jadi lebih mudah menyesuaikan,” jelas Harsono.

Pemilik Difabelzone.id Lidwina Wuri Akhdiyatni menuturkan, sudah saatnya masyarakat menjadi inklusi. Di mana terjadi kolaborasi antara berbagai unsur. Salah satunya kolaborasi yang dilakukan Wina, sapaan akrabnya, dan difabel binaannya. “Jadi, inklusi adalah kolaborasi antara difabel dan non-difabel,” ungkapnya.

Perempuan 45 tahun ini merupakan non-difabel yang memiliki kemampuan dasar desain dan meneruskan usaha batik tulis milik ibunya. Ketika itu Wina rampung mengajar membatik para difabel, dia justru berpikir keberlanjutan ilmu yang ajarkan.

“Kalau nggak ada yang mau menerima bagaimana? Karena pasti tidak semua pengusaha mau menerima. Kebetulan yang masuk ke kelas saya klasifikasinya ringan ke berat,” ujarnya.

Wina kemudian mengajak beberapa orang rekannya untuk menjadi pemodal. Sampai terkumpul dana untuk membangun usaha batik tulis. Awalnya Wina pesimistis. Mengingat masyarakat ada yang belum menghargai hasil karya difabel. Selain itu ia juga mengkhawatirkan hasil batik tulis buatan para difabel.

“Aduh, kalau sampai nggak bisa bagaimana? Padahal teman-teman semangat belajarnya tinggi. Saya nggak mungkin mematahkan semangat mereka,” bebernya. Bahkan Wina mengaku sempat menilai batik karya difabel binaannya jelek.

“Eh, ternyata goresan mereka justru tidak tergantikan. Justru itu menjadi ciri khas dengan keunikan goresannya,” tambah Wina. Terbukti, karya pada difabel ini laris sampai Jepang, Jerman, dan Australia.

Bukan cuma itu, batik tulis karya difabel ini bahkan memiliki penggemar fanatik. Beberapa pelanggan ada yang meminta agar kain batik karya difabel ditawarkan kepadanya terlebih dahulu. Sebelum diunggah ke media sosial. “Alhamdulillah, sekarang teman-teman bisa membantu keluarganya,” ujarnya terharu.

Seperti Sabar yang dapat membelikan ibunya kompor gas. Bahkan ketika pulang ke rumah, ia bisa memberikan uang jajan kepada keponakannya. “Kepercayaan dirinya tumbuh. Padahal kali pertama saya ketemu, tatapan matanya kosong,” bebernya.

Batik karya para difabel ini sedianya rutin dipamerkan oleh Wina di Jakarta. Namun, pandemi Covid-19 membuat pameran tidak dapat digelar. Pagebluk korona juga menutup akses kunjungan wisata ke workshop. Akibatnya, penjualan karya difabel menurun.

Dari sekitar 25 pekerja, kini Wina hanya mempekerjakan tujuh difabel. “Karena pandemi menurun sekali, tapi kami berinovasi dengan menjual pouch, masker, dan tempat tisu. Produk yang kecil-kecil gitu,” sebutnya.

Kabid Hubungan Industrial Kesejahteraan Pekerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bantul Anursina Karti membenarkan, difabel memiliki hak untuk dapat bekerja di perusahaan, sesuai UU No 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas. Namun kuotanya sangat terbatas, yaitu satu persen dari jumlah total tenaga kerja. “Aturannya, setiap mempekerjakan 100 tenaga kerja, ada satu yang difabel,”  jelasnya.

Untuk itu, setiap perusahaan dikenakan wajib lapor perusahaan (WLP) secara online. Di mana dalam laporan tersebut terdapat jumlah tenaga kerja yang diberdayakan oleh perusahaan. “Dalam WLP juga ada isian yang memuat jumlah tenaga kerja difabel yang diberdayakan,” paparnya.

Pemilik usaha tas kulit, Sri Mulyani pun mengaku hanya mempekerjakan satu difabel dari total sekitar 80 pekerja di perusahaannya. Difabel itu adalah tunadaksa. Namun perempuan 40 tahun ini enggan menyebut jenis pekerjaan yang dikerjakan dan berapa lama difabel itu bekerja. “Karena itu data perusahaan,” dalihnya. (fat/laz)

Bantul