RADAR JOGJA – Lanjut usia (lansia) tetap menjadi prioritas vaksinasi di Bumi Projotamansari. Di samping itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul pun menaruh perhatian pada pelayan publik. Sektor yang kali ini menjadi sasaran adalah dosen.

“Prioritas kedua, masih pelayan publik. Ini kami utamakan ke dosen perguruan tinggi yang masuk wilayah Bantul,” sebut Juru Bicara pengelolaan vaksin Covid-19 Bantul, dokter Abednego Dani Nugroho dihubungi Radar Jogja Minggu (23/5).

Dikatakan, vaksinasi dosen sesuai dengan arahan dari Sekretaris Daerah (Sekda). Di samping terus memberikan vaksinasi kepada pelayan publik lainnya, seperti linmas dan kader kesehatan desa. “Jadi limas dan kader kesehatan yang lansia kami utamakan, karena high priority tetap lansia,” bebernya.

Sedangkan stok vaksin di Bantul saat ini tersisa 7.500 dosis. Di mana peruntukannya sudah didata. “Ada arahan untuk ngebut ke pelayanan publik. Jadi 7.500 dosis itu untuk 3.700 orang, dan sudah ada plotnya. Jadi sebenarnya sudah tidak ada sisa vaksin lagi. Tinggal menyuntikan aja,” bebernya.

Dipaparkan pula capaian vaksinasi pelayan publik mencapai 58,75 persen untuk dosis pertama, sementara untuk dosis kedua baru 42,48 persen. Capaian vaksinasi lansia baru 17,03 persen untuk dosis pertama, sementara dosis kedua hanya 6,16 persen. “Stressing vaksinasi di puskesmas, ke depan kai juga akan buka setra vaksinasi. Semoga minggu depan bisa kami eksekusi,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Covid-19 STMIK Akakom, Edi Iskandar menyebut jika semua staf dan karyawan di lingkungan kampusnya sudah divaksin. Vaksinasi dosis kedua bahkan dilakukan pada saat bulan Ramadan, yaitu tanggal 4, 5, dan 6 Mei lalu. “Kami koordinasi bersama 29 perguruan tertinggi di DIJ, kerjasama dengan RSPAU dr. S. Hardjolukito,” ungkapnya.

Vaksinasi dilakukan mengingat kampus yang akan menggelar uji coba tatap muka pada bulan Juli mendatang. Selain itu, kampus akan menggelar uji coba work from office (WFO) 100 persen pada bulan Juni. “Kalau tidak ada masalah, kami baru akan menggelar tatap muka pada bulan Juli,” jelasnya.

Nantinya, kuliah tatap muka akan digelar sekitar satu sampai 1,5 bulan. Pada semester pendek ini, mahasiswa yang mengikuti kelas akan dibatasi sebanyak 30 orang saja dalam satu kelas. Di mana kuliah ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang mengulang mata kuliah di semester sebelumnya. “Bila tidak ada dampak negatif, kemungkinan kami September sudah menyelenggarakan kuliah tatap muka,” jelasnya. (fat/pra)

Bantul