RADAR JOGJA— Sterilisasi Pantai Parangtritis terus digencarkan. Pemkab Bantul pun melakukan operasi penertiban untuk yang ketiga kalinya. Guna mendisiplinkan pedagang nakal yang membuka lapak di area Pantai Parangtritis.

Kasi Ketertiban Umum Satpol PP Bantul Hendro Cahyo menyebut, penertiban sudah dilakukan sebanyak tiga kali. Penertiban menyasar pada pedagang yang membuka lapak di bibir pantai. Di mana petugas dibagi menjadi dua tim untuk melakukan penyisiran ke timur dan barat. Kegiatan sekaligus menguji efektivitas peraturan, sehingga dilakukan secara berkala. Bila pelanggaran marak terjadi, petugas akan memperbanyak patroli. “Satu minggu mungkin bisa setiap hari. Kalau sudah dipandang cukup akan dikurangi,” ujarnya.

Namun, pedagang yang terjaring penertiban tidak dikenai sanksi. Petugas hanya membongkar lapak yang dibangun oleh pedagang di bibir pantai. Sebab pemberitahuan larangan sudah dipasang. Selain itu, petugas juga mengumumkan larangan melalui pengeras suara.” Banner sudah dipasang sejak pertengahan puasa kemarin,” cetusnya.

Kendati begitu, lokasi relokasi para pedagang yang biasa membuka lapak di bibir pantai belum dipikirkan. Sebab sepemahaman Hendro, pedagang yang membuka lapak di area pantai notabenenya memiliki warung. Di mana warung mereka, berada di lokasi yang diperkenankan oleh petugas. Selama ini pedagang tidak menanyakan mau direlokasi kemana. Karena memang pedagang-pedagang itu notabeneny orang yang ada di pinggir itu, yang punya warung di situ, bebernya.

Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Bantul Agus Yuli H menambahkan, kategori pedagang yang ditertibkan adalah pedagang lapak. Sebab mereka membangun gubuk yang menutupi keindahan pemandangan Pantai Parangtritis. Jadi yang boleh hanya pedagang asongan, yang digendong itu boleh. “Kursi (yang disediakan di area pantai, Red) boleh, nanti makanan dibawa dari utara. Yang gak boleh lapak untuk berjualan,” jelasnya.

Dijelaskan, penertiban merupakan langkah awal. Menindaklanjuti keluhan wisatawan yang merasa terganggu saat menikmati pemandangan pantai. Misalnya, wisatawan yang datang justru disambut pemandangan pedagang yang berkerumun. Selain itu, pedagang yang membuka lapak di area pantai turut menyumbang jumlah sampah di bibir pantai. Ada yang dimasukkan sampahnya ke dalam pasir. Sehingga pantai sangat kotor. “Kalau itu diteruskan, Bantul akan sangat ketinggalan pariwisatanya dibanding daerah lain”, sebutnya.

Selanjutnya, Dinpar akan berkoordinasi dengan masyarakat, Pokdarwis Parangtritis, dan organisasi perangkat daerah terkait. Untuk menampung masukan dan evaluasi kebijakan. Termasuk relokasi pedagang yang biasa berjualan di area pantai. “Setelah kami tertibkan, evaluasi dulu. Nanti kan ada masukan, kami tampung, terus nanti kami evaluasi. Mungkin kami akan buatkan kebijaksanaan lagi,” ujarnya. (fat/pra)

Bantul