RADAR JOGJA – Hantaran menjadi sesuatu yang penting untuk merekatkan silaturahmi. Keranjang anyaman atau hamper pun menjadi salah satu produk pendukung yang diminati sebagai wadah hantaran. Namun, produk ini cukup sulit didapat secara online. Sebab perajin produk tradisional ini, masih berjualan secara manual.

Setidaknya bagi salah satu warga Wirokerten, Banguntapan, Bantul, Anissa Khodijah. Ibu dua orang anak ini memiliki bisnis kue. Kendati lebaran sudah berlalu, Anissa masih menerima beberapa pesanan. Terutama tart puding buah. “Dari H-4 lebaran, aku sudah kesusahan cari hampers. Jadi sekarang cuma aku bungkus pakai plastik mika,” sebutnya kepada Radar Jogja Selasa(17/5).

Perempuan 28 tahun itu menyebut, hamper membuat tampilan produk kuenya menjadi lebih menawan. Selain itu, hamper jenis besek, merupakan produk yang ramah lingkungan dan cukup murah. “Sekarang kan trennya meminimalkan penggunaan plastik,” cetusnya.

Kesibukan Anissa memenuhi pesanan pelanggan tentu membuat waktunya terbatas. Oleh sebab itu, dia memilih mencari perajin secara online. Namun, dua perajin yang dihubunginya ternyata sudah kehabisan stok. “Tapi aku chat dua perajin di Kasihan masih kosong,” keluhnya.

Di sisi lain, Sugiyantoro ternyata memiliki stok besek yang bertumpuk. Lantaran, Sugi cuma mengandalkan pesanan jika ada hajatan. Padahal, selama pandemi Covid-19, hajatan jarang digelar. Akibatnya, produk yang dijualnya mengalami penurunan. “Hajatan berkurang, jadi pendapatan juga berkurang,” ujarnya.

Pria 55 tahun ini pun mengaku memiliki keterbatasan pemahaman teknologi informasi (TI). Akibatnya dia tidak dapat memasarkan produk secara online. Kendati, Sugi mulai berencana merambah ke pemasaran online. “Penjualan saya masih manual, kalau ada pelatihan penjualan online, nanti biar anak saya yang ikut,” sebutnya.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DKUKMP) Agus Sulistiyana menyebut, saat ini merupakan era digital. Oleh sebab itu, pengusaha yang masih berjualan secara manual harus dituntut untuk dapat beralih. “Jadi pemasaran tidak hanya di kampung, tapi online,” paparnya.

Agus mengakui, dinasnya memiliki keterbatasan anggaran untuk memberi pelatihan penjualan online. Namun, DKUKMP menggandeng bank atau lembaga untuk bekerjasama melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha di Bumi Projotamansari. “Pelatihan kami berikan kepada perajin pemula. Agar anggota sentra bangkit lagi, kami sudah lakukan di beberapa tempat,” tandasnya. (fat/bah)

Bantul