RADAR JOGJA – Perajin batik kayu di Desa Wisata Krebet, Sendangsari, Pajangan, Bantul terpuruk. Bagaimana tidak. Salah satu kerajinannya, rekal atau tatakan membaca, hanya dipesan 24 buah sejak pandemi menghantam Bantul akhir Maret tahun lalu.

“Drop, puasa ini belum ada order. Tapi mendadak ada orderan 24 biji, untuk hajatan,” ucap Dukuh Krebet Kemiskidi ditemui di rumahnya belum lama ini. Padahal sebelum pandemi, permintaan rekal yang rutin diterima 100-200 buah per bulan. Bahkan permintaan datang dari Surabaya, Jepara, dan Pekalongan.

Macetnya permintaan, membuat perajin di Krebet lantas beralih profesi. Dari 40 titik kerajinan, kini hanya lima titik yang mampu bertahan.  Kemis sendiri harus menjual salah satu asetnya, yaitu tanah seluas 400 meter persegi untuk bertahan dari hantaman pandemi.

Alasannya, karena ada pinjaman di bank. Orderan hanya pas-pasan untuk makan dan gaji karyawan. Untuk bayar hutang nggak cukup. “Agar perekonomian tetap berputar, sebagai cadangan (hasil penjualan aset, Red) untuk jogo-jogo,” keluhnya.

Selain itu, pria 59 tahun ini ingin tetap menjaga eksistensi Desa Krebet sebagai desa wisata. Sehingga penting buatnya, kerajinan kayu tetap bergeliat. Menurut dia, Desa Krebet sudah terkenal desa wisata. Sentra kerajinan. “Kalau nggak bikin nanti habis. Alhamdulillah, saya jalan terus dari dulu. Ya enggak tahu, Allah itu, kasih saya rejeki terus,” ujarnya.

Rekal yang terbuat dari kayu pernah sangat diminati karena keunikannya. Di mana pada kayu rekal terbubuh motif batik berupa bunga atau yang biasa ada di kain. “Biasanya pembeli minat karena fungsinya, yang membedakan, kalau (rakel di tempat, Red) yang lain biasanya plituran saja. Di sini ada batiknya,” paparnya.

Rakel buatan Kemis menggunakan bahan kayu sengon dan jati. Rakel dijual bervariasi sesuai ukuran dan materialnya, mulai Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu. Kadang, kata dia, ada yang minta ada tulisan Allah dan Muhammad. “Tapi kalau saya bikinnya semua netral. Kalau ada pesanan khusus baru (membubuhkan lafadz Allah dan Muhammad, Red). Karena kami menjualnya fungsi, untuk membaca apapun bisa, baca buku juga bisa,” ujarnya.

Salah satu pengunjung toko kerajinan di Krebet, Baktora mengaku kagum dengan karya yang dipajang. Terutama rekal kayu yang dibubuhi batik. “Ini unik, juga bisa salah satu alternatif melestarikan kekayaan intelektual bangsa. Ada batiknya. harus dilestarikan sih,” pujinya. (fat/pra)

Bantul