RADAR JOGJA – Kasatreskrim Polres Bantul AKP Ngadi meminta masyarakat belajar dari kasus takjil sate. Berawal dari paket tidak jelas berujung hilangnya nyawa manusia. Dia mendorong agar masyarakat khususnya pemilik jasa pengiriman paket lebih ketat dan selektif dalam menerima pesanan.

Ngadi berpesan agar pengantar paket mencatat secara lengkap nama pengirim. Selain itu juga isi dari paket tersebut. Langkah ini sebagai antisipasi apabila barang kiriman berkonsekuensi dengan hukum. “Kalau mau ditolak, monggo kebijakannya seperti apa. Yang jelas berkaca dari kasus ini harus lebih hati-hati,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (30/4).

Ngadi juga berharap pihak perusahaan jasa ekspedisi menerapkan aturan secara tegas. Untuk selalu menerima dan mengirim paket dengan identitas yang jelas. Baik pengiriman dengan sistem online maupun offline. “Kalau ojol (ojek online) harusnya melalui aplikasi yang benar. Kalau ada kejadian seperti ini bisa diantisipsi,” katanya.

Khusus untuk paket makanan, dia mengimbau untuk tidak asal makan. Terlebih belum jelasnya identitas pengirim. Langkah ini sebagai antisipasi jika makanan mengandung zat berbahaya. “Imbauan kepada masyarakat untuk mungkin ada kiriman makanan-makanan yang pengirimnya enggak jelas tolong diantisipasi jangan ada kejadian yang sama seperti ini. Kalau mencurigakan tidak usah makan,” pesannya.

Hasil penyelidikan terakhir, terungkap bahwa sate lontong mengandung racun jenis C. Dikuatkan dengan hasil pemeriksaan laboratorium kesehatan daerah (Labkesda). Temuan ini selanjutnya menjadi tambahan bahan penyelidikan.
Terkait identitas tersangka, Ngadi mengaku telah ada titik terang.

Hanya saya pihaknya belum bisa membeberkan. Seluruhnya masih dalam proses penyelidikan. Termasuk melacak keberadaan tersangka pengirim paket takjil. “Sekarang masih terus lidik nanti perkembangan akan kami sampaikan. Untuk identitas mudah-mudahan sesuai bukti,” ujarnya. (dwi/ila)

Bantul