RADAR JOGJA – Bandiman, 47, mulai terlihat tegar pasca kepergian anak bungsunya, Naba Faiz. Anak berusia 10 tahun ini merupakan korban dari takjil maut. Berupa sate lontong yang didapatkan Bandiman dari sosok perempuan misterius.

Nada bicara pria yang kesehariannya bekerja sebagai ojek online ini mulai terdengar santai. Sesekali dia menjawab pertanyaan dengan senyum dan tawa. Walau begitu tetap terlihat kesedihan di sudut kerlingan matanya.
“Sampai sekarang saya belum bekerja mas, belum narik ojek. Masih belum mood kerja karena masih berduka. Istri juga sudah mendingan tapi kalau keinget ya nangis lagi,” jelasnya ditemui di kediamannya di Randubelang, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Jumat (30/4).

Dia tak menyangka bahwa rezeki takjil menjadi maut bagi anaknya. Awalnya dia menerima pesanan secara offline. Untuk kemudian diantar ke daerah Kasihan, Bantul.

Sate lontong yang awalnya diantar ternyata ditolak oleh nama penerima. Sang nama penerima dan istrinya mengaku tak mengenal nama pengirim. Yaitu Hamid yang berasal dari Pakualaman, Kota Jogja.
“Mikirnya ini rezeki saya, akhirnya saya bawa pulang. Saya sama anak sulung sempat makan sate aja, tidak ada yang aneh. Istri dan anak bungsu saya makan pake bumbu, setelah itu muntah karena rasanya pahit dan pedas,” kisahnya.

Kini Bandiman hanya bisa pasrah. Dia menyerahkan semua penyilidikan kepada Polres Bantul. Harapannya agar proses hukum tetap berlanjut. Hingga akhirnya terlacak pelaku dan motif aksinya.

“Ini saya juga dibantu pengacara, dia ini suami gurunya anak saya (Naba Faiz). Alhamdulillah dibantu, saya juga cuma bisa bilang terima kasih,” katanya.

Bandiman telah melakoni profesi ojek online sejak 2017. Fokusnya adalah mencari penumpang atau GoRide. Sesekali juga menerima pesanan GoFood. Sebelum menjalani profesi ojek online, Bandiman awalnya hanyalah buruh proyek. Pernah juga bekerja di perusahan tambang emas dan batu bara. Namun mengalami PHK pasca krisis moneter.

“Dulu kerja di Bogor tahun 1997 sampai 1999, lalu di pertambangan batubara di Bengkulu dari 1999 sampai 2001. Tapi saat itu krisis jadi akhirnya kena PHK,” ujarnya.

Kini ojek online menjadi mata pencaharian tetapnya. Untuk biaya kehidupan sehari-hari. Juga membayar biaya sekolah anak sulungnya dan si bungsu Naba Faiz.
Pasca pandemi Covid-19, pemasukannya menurun drastis. Untuk mendapatkan uang Rp 100 ribu, dia harus bekerja hingga pukul 21.00. Jika dalam kondisi normal, nominal ini bisa dia dapatkan hingga pukul 17.00.

“Pandemi ini sepi, padahal kerja dari jam 6 pagi. Pulang kalau memastikan yang untuk belanja cukup atau tidak, kalau tidak maka habis teraweh lanjutkan narik lagi,katanya. (dwi/ila)

Bantul