RADAR JOGJA – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul mengklaim siap gelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Menyusul PTM terbatas yang diselenggarakan oleh SMA dan SMK. Bahkan, uji coba PTM terbatas sudah dilakukan sejak akhir Maret 2021, berbarengan dengan penerapan layanan konsultasi pelajaran (LKP).

“Sudah kami laksanakan, kami di Bantul tetap konsisten bentuknya LKP sekaligus sebagai uji coba PTM terbatas,” sebut Kepala Disdikpora Bantul Isdarmoko dihubungi Radar Jogja kemarin (29/4).

Dijelaskan, LKP diselenggarakan oleh SMP dan SD di Bantul sejak akhir Maret. Semua sekolah yang dapat memenuhi syarat diperkenankan menggelar PTM terbatas atau LKP. Di antaranya menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat dan harus mendapat izin tertulis dari orang tua. Sekolah juga harus berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 di tingkat kapanewon.

Selain itu, sekolah harus mengatur jadwal siswanya. Di mana siswa yang boleh hadir dalam satu kelas dibatasi dalam jumlah kecil, yaitu hanya sekitar 30 persen. Shifting yang diterapkan sekolah pun hanya diperkenankan dua sampai tiga jam. “Kegiatan siswa di sekolah hanya dua kali seminggu. Serta tidak boleh ada kerumunan,” tegasnya.

Terpisah, Siswa SMPN 1 Imogiri, Afanur Kholif Aulia, mengaku kesulitan dalam memahami beberapa materi mata pelajaran selama pembelajaran jarak jauh (PJJ). Seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris. Maka gadis, 12 tahun itu menyambut gembira program LKP dan PTM terbatas.

Senada, Anggi Sri Anggraeni merasa pusing, karena susah memahami materi pembelajaran selama PJJ. Lantaran siswa kelas VIII itu mengaku kerap terkendala sinyal dan masalah kuota saat PJJ. “Senangnya ke sekolah, karena bisa memahami materi pelajaran lebih baik,” ujarnya.

Kendati masih merasa was-was, Waris Sukiyati pun mengaku senang jika anaknya biasa datang ke sekolah. Sebab anaknya yang duduk di bangku kelas VII kesulitan dalam materi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. “Kalau normal seperti sebelum pandemi, saya belum berani. Tapi kalau masuk, seminggu dua kali dengan kelompok kecil, monggo. Tapi harus sedang penerapan prokes,” pinta perempuan 40 tahun itu. (fat/bah)

Bantul