RADAR JOGJA – Bandiman, 47, berharap penyidikan kasus takjil maut berlangsung tuntas. Dia tak ingin kasus tersebut berhenti di tengah jalan. Terlebih anak bungsunya Naba Faiz, 10, menjadi korban dari takjil sate lontong tersebut.

Terkait perkembangan kasus, dia belum mengetahui secara pasti. Termasuk penyebab kematian sang buah hati. Hanya saja dia sempat mendapatkan informasi adanya kandungan racun dalam bumbu sate.

“Harapan keluarga diselesaikan dengan tuntas jangan sampai berhenti di tengah jalan. Belum tahu detilnya, tentang racunnya,” jelasnya ditemui di kediamannya Randubelang, Bangunharjo, Sewon Bantul, Jumat (30/4).

Bandiman mencoba mengingat-ingat sosok perempuan misterius tersebut. Hanya saja dia tak bisa mengingat secara jelas. Satu hal yang dia ingat adalah perempuan itu mengenakan hijab.
Saat menerima orderan, Bandiman juga tak menatap terlalu lama. Dia fokus dengan gawai miliknya. Untuk mencari alamat pesanan melalui aplikasi Google map.

“Pakai jilbab tidak pakai masker. Waktu ketemu hanya 3 menit ngobrolnya. Pak tolong antar paket tapi offline, tidak punya aplikasi, masalah ongkos manut. Saya fokus lihat handphone untuk cari alamatnya,” katanya.

Kalimat lain yang dia ingat adalah nama pengirim. Sosok perempuan misterius tersebut menyebutkan nama Hamid dari Pakualaman. Selain itu juga memberikan nomor telepon penerima paket atas nama Tomi.
Usai perbincangan, Bandiman langsung mengantar takjil ke sekitar Kasihan, Bantul.

Sayangnya orang yang dicari tidak di rumah. Lalu dia berinisiatif menelpon nomor pemberian perempuan misterius. Saat tersambung, sosok Tomi mengaku sedang keluar kota.

“Ada istri di rumah tapi pak Tomi dan istrinya mengaku tidak mengenal sosok pengirim lalu menolak. Tidak menyangka, saya mikirnya (takjil sate lontong) ini rezeki saya dan diserahkan ke saya,” ujarnya.

Sate itu dia bawa pulang ke rumahnya untuk santap berbuka. Setibanya di rumah, Bandiman dan anak sulungnya sempat memakan sate tanpa bumbu. Tidak ada keanehan, hingga akhirnya sang istri Titik Rini dan anaknya Naba Faiz muntah-muntah.
“Anak saya bilang rasanya pedes pahit, lalu dikasih minum dan ketelan. Kalau istri saya muntah begitu tahu pahit. Anak sempat saya gendong lalu tak balik, biar keluar racunnya malah keluarnya buih sepeti air liur,” ceritanya.

Peristiwa ini menjadi catatan baginya. Agar selalu berhati-hati dalam menerima pesanan. Dia juga mengingatkan agar pengemudi ojek online lainnya belajar dari peristiwa yang dialaminya.
Tentang pesanan offline, diakui olehnya tak dibolehkan oleh kantor Gojek. Hanya saja saat itu ada pertimbangan khusus. Berupa pesanan takjil berbuka puasa. Disisi lain juga sepinya orderan selama seharian.

“Sebenarnya tidak boleh terima offline tapi panggilan hati karena takjil. Tapi juga tidak munafik orderan sepi cari Rp 100 ribu sampai malam tidak dapat. Saya tidak suudzon kalau itu (takjil sate) berbahaya,” katanya. (dwi/ila)

Bantul