RADAR JOGJA –Pihak keluarga awak KRI Nanggala-402  mulai cemas. Kapal selam yang dilaporkan hilang di perairan Bali bagian utara pada Rabu (21/4) itu hingga kini belum ditemukan.

Sosok Sunaryo tak banyak bicara ketika sanak saudara dan tetangga mendatangi kediamannya di Dusun Ngreco , Seloharjo, Pundong Bantul. Pria berusia 48 tahun ini masih menunggu kabar kepastian anaknya, Kelasi 1 Isy Gunadi Fajar Rachmanto. Anak sulungnya ini adalah salah satu awak dari KRI Nanggala-402 yang hilang kontak.

KEPASTIAN:Pihak keluarga memperlihatkan poto Gunadi Fajar Rachmanto. Pertemuan terakhir dengan anaknya berlangsung bulan lalu, tepatnya 27 Maret. Kala itu sang anak sedang berlibur bersama istrinya. Lalu pulang ke kediamannya di Dusun Ngreco, Seloharjo Pundong Bantul. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Sunaryo juga terus berkomunikasi dengan menantunya Dwi Ari Astanti. Berharap ada kabar baik dari pihak TNI Angkatan Laut. Terkait perkembangan pencarian KRI Nanggala-402 di perairan utara Pulau Bali.

“Informasi yang saya dapatkan dari menantu, istri anak saya korban dari kapal Nanggala. Rabu malam (21/4) ngasih kabar begini, bapak KRI Nanggala kehilangan kontak begitu. Terus saya pastikan lihat berita di lewat handphone, benar Nanggala-402 itu kapal anak saya,” jelasnya ditemui di kediamannya, Jumat (23/4).

Sang menantu menjadi pintu utama komunikasi dengan pihak TNI Angkatan Laut. Mendapatkan informasi dari rekan-rekan anaknya di lokasi pencarian. Untuk kemudian diteruskan kepada keluarga di Seloharjo.

“Komunikasi terkini dengan yang disana, dengan TNI tidak bisa komunikasi itu dari anak mantu saya. Teman yang ikut disana memberi kabar bagaimana sekarang dilakukan pencarian, baru nanti dikasih kabar kesini,” katanya.

Pertemuan terakhir dengan anaknya berlangsung bulan lalu, tepatnya 27 Maret. Kala itu sang anak sedang berlibur bersama istrinya. Lalu pulang ke kediamannya di Dusun Ngreco, Seloharjo Pundong Bantul.

Dalam kesehariannya, Fajar selalu pamit sebelum berangkat bertugas. Inipula yang dia lakoni sebelum mengikuti latihan menembak torpedo di perairan utara Pulau Bali. Kala itu dia pamit dan meminta restu kepada ibunya.

“Kalau terakhir komunikasi via handphone minggu kemarin. Pamitan sama ibunya mau berangkat layar. Sehabis itu berapa malam tidak ada WhatsApp, lalu tidak aktif handphonenya terus ada kabar itu, bahwa hilang kontak,” ujarnya.

Selepas menikah, Fajar hijrah bersama istrinya, Dwi Ari Astanti ke Purworejo Jawa Tengah. Keduanya menjalani hubungan jarak jauh selama Fajar menjalani tugas. Sang istri kini tengah mengandung 7 bulan.

“Anak (menantu) saya sekarang hamil 7 bulan. Mantu saya sekarang di rumahnya di Purworejo,” katanya.

Menjadi anggota TNI merupakan cita-cita Fajar sejak lama. Sunaryo menceritakan anaknya resmi mengenakan seragam loreng TNI AL sejak 2014. Awalnya bertugas di Komando Armada I Jakarta.

Selang waktu, anak pertama dari dua bersaudara ini lanjut Sekolah Kapal Selam. Selepasnya langsung berpindah tugas di Komando Armada II Surabaya. Tercatat sudah 3 tahunan terakhir ini Fajar telah bertugas di sana.

“Pendidikan Sekolah Kapal Sleman itu hampir 9 bulan lalu pindah ke Komando Armada II Surabaya. Kalau jabatan itu bagian sonar,” ujarnya.

Sunaryo berharap anaknya bisa ditemukan dengan selamat. Dia bersama keluarga hanya bisa berdoa agar pencarian dan evakuasi berlangsung lancar. Sehingga seluruh kru KRI Nanggala-402 bisa selamat.

Doa bersama juga berlangsung sejak Kamis malam (22/4). Para tetangga datang untuk mendoakan keselamatan Fajar. Tepatnya selapas salat tarawih .

“Harapan besar keluarga bisa dievakuasi dengan selamat semua kru awaknya, pihak pemerintah dan pihak evakuasi tepat waktu agar selamat. Keluarga selalu optimis dan berdoa semoga Tuhan memberikan kabul dan memberikan selamat,” katanya.(dwi/sky)

Bantul