RADAR JOGJA – Antrian pembagian takjil di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ramai diperbincangkan di jagat sosial medial.

Bukan terkait aksi sosial namun munculnya kerumunan. Tak hanya di lingkungan kampus namun mengular hingga jalur lambat Ringroad Barat.

Antrian panjang mengular ini terjadi, Rabu (14/4). Terlihat antrian motor terlihat dari pintu masuk UMY hingga ke sisi selatan. Imbasnya para warga yang melintas turut terjebak dalam antiran ini.

“Kemarin ada paket pembagian sembako untuk beberapa unsur masyarakat dan civitas akademika. Juga ada pembagian subsidi kuota untuk adik-adik mahasiswa itu juga masuk dalam UMY mengabdi. Lalu ada pembagian takjil dan sahur di tahun kemarin,” jelas Kepala Biro Humas dan Protokol UMY Hijriyah Oktaviani dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (15/4).

Hijriyah tak menampik kegiatan ini justru menimbulkan kerumunan. Menurutnya, antusiasme mahasiswa sangatlah tinggi. Alhasil antrian saat pembagian takjil tak bisa terhindarkan.

Melihat dampak antrian, pihaknya segera melakukan evaluasi. Melibatkan panitia ramadan di kampus (RDK), relawan dan tim Incident Command System (ICS). Skema perubahan telah disiapkan saat pembagian takjil.

“Hasil rapat menyatakan kampus tetap membagikan 1.500 paket buka puasa kepada mahasiswa aktif. Dimulai pukul 16.00 WIB, lalu peserta diminta mengikuti perubahan jalur antre oleh petugas jaga. Mahasiswa diminta tetap patuh protokol kesehatan,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Hijriyah memastikan para mahasiswanya telah berjaga jarak. Ini karena semuanya tidak turun dari sepeda motor masing-masing. Selain itu, usai menerima takjil wajib meninggalkan area kampus.

Walau begitu dia mengakui ada dampak lain dari antrian. Berupa terganggunya aktivitas warga umum. Ini karena antrian menggunakan hampir seluruh badan jalan jalur lambat Ringroad Barat.

“Saya pikir jadi masalah itu adalah fasilitas publik, jalan raya itukan fasilitas publik dan itu menjadi terganggu karena mengular. Itu yang coba kami atasi dengan perubahan jalur mulai sore nanti,” ujarnya.

Program UMY Mengabdi sejatinya telah berjalan sejak awal pandemi Covid-19. Sasarannya adalah para mahasiswa yang masih bertahan di Jogjakarta. Saat puasa, aksi disertai dengan pembagian 1.000 takjil.

Hijriyah menuturkan jumlah takjil telah berkurang. Tahun lalu kuota takjil dari kampus sebanyak 1.600 paket. Syarat penerima hanya dengan menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM)..

“Kuota 1.000 paket takjil habis dalam waktu 20 menit. Tapi ternyata tidak cukup. Akhirnya pak rektor menginstruksikan penambahan 500 paket. Ternyata ini masih tidak cukup karena peminatnya membludak,” katanya.

Pihak kampus, lanjutnya, tak mengira antrian semakin panjang. Pada awalnya berasumsi bahwa para mahasiswa telah pulang kampung. Sehingga paket takjil menyasar para mahasiswa yang memilih tetap tinggal di Jogjakarta.

“Menurut pimpinan, mahasiswa itu masih banyak yang online. Kami mengira lebih banyak mahasiswa yang sudah kembali ke kampung halamannya. Ternyata mahasiswa banyak juga yang sudah ada di Jogja,” ujarnya. (dwi/sky)

Bantul