RADAR JOGJA – Budiyantoro meregang nyawa, di tangan mantan karyawan yang juga sepupunya sendiri, Nur Kholis. Jasad pria 38 tahun tersebut ditemukan di selokan Selogedong, Argodadi, Sedayu, Bantul Rabu (31/3) pagi, dengan tanda bekas jeratan di leher.
Kejahatan Nur terungkap, berawal dari temuan Polres Kulonprogo, yang melakukan patroli di jalan Raya Kaligesing, Kembang, Nanggulan, Kulonprogo. Ketika itu, Nur sedang mengemudikan mobil Kijang Inova warna hitam tanpa plat nomor dan berhenti di pinggir jalan dengan kaca depan retak.
Selanjutnya, petugas menanyakan identitas pengemudi serta melakukan pengecekan terhadap kendaran. ”Setelah diinterogasi, Nur Kholis akhirnya mengaku, telah membunuh Budiyantoro,” beber Kasatreskrim Polres Bantul AKP Ngadi dalam jumpa pers di Aula Polres Bantul kemarin.
Selain itu, Nur membuang barang bukti di beberapa lokasi berbeda. Barang bukti dibuang secara acak, seperti di jalan Wates, Godean dan Kulonprogo. “Pencarian (korban juga, Red) dilakukan berdasar keterangan tersangka,” jelasnya.
Korban dibuang ke selokan Argodadi, Sedayu, kemarin. Jasadnya, ditemukan pukul 06.11. Berdasar temuan itu, Satreskrim Polres Kulonprogo melakukan koordinasi dengan Satreskrim Polres Bantul.
Selanjutnya, petugas melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan dari saksi dan mengamankan barang bukti yang telah dibuang. Dari penyelidikan, Nur melancarkan aksinya sekitar Selasa malam (30/3).
Dijelaskan, antara korban dan tersangka saling kenal. Tersangka kerja di salah satu perusahaan yang dipimpin korban. Kemudian, tersangka dikeluarkan dari perusahaan. ”Dari sini terjadi permasalahan,” jelasnya.
Dari pengakuan, Nur mengaku kerap mendapat bully dan pengancaman dari Budiyantoro. “Akhirnya, daripada dibunuh, memilih membunuh duluan,” jelasnya
Pembunuhan dilakukan di atas mobil korban. Di mana sebelum melancarkan aksinya, tersangka menumpang di mobil korban. Pada saat mobil berhenti, Nur mengeluarkan kawat yang selalu dibawanya untuk menjerat Budi. “Korban sempat melakukan perlawanan,” katanya.
Nur berkilah selalu membawa kawat sebagai antisipasi, lantaran kerap mendapat ancaman dari majikannya. Korban selalu mengancam Nur, jika masih tinggal Jogja.
”Saya akan dibunuh, rumah saya juga mau diobrak-abrik. Saya tidak merencanakan (pembunuhan, Red). Tapi saya berjaga-jaga, kemana-mana selalu membawa kawat,” dalihnya.
Nur pun menampik, adanya hubungan khusus antara dirinya dan istri korban berinisial K. Kendati kerap berhubungan melalui chatting dan video call. “Sebetulnya bukan menggoda. Tapi chat masalah kerjaan,” kilahnya.
Akibat ulahnya, Nur s disangkakan Pasal 340, 338, dan 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lama dua puluh tahun. (fat/bah)

Bantul