RADAR JOGJA – Kapanewon Imogiri menjadi salah satu wilayah rawan bencana di Bantul. Khususnya di Kalurahan Wukirsari yang memiliki kerawanan di musim panas maupun penghujan. Oleh sebab itu, penanganan kebencanaan menjadi salah satu prioritas.

Lurah Wukirsari, Susilo Hapsoro menyadari tingginya potensi bencana di wilayahnya. Karena itu, kalurahan dengan 16 padukuhan itu memberikan alokasi khusus terhadap penanganan bencana.

“Tiap tahun kami selalu mencadangkan (anggaran untuk penanggulangan bencana, Red), entah terpakai atau tidak,” terang Susilo ditemui di kantornya Selasa (22/3).

Disebutkan, anggaran penanganan bencana di Wukirsari jumlahnya hampir Rp 300 juta pada 2020. Dari dana yang tersedia, terpakai sebesar Rp 180 juta. “Tahun ini kami juga menganggarkan dengan jumlah yang sama, hampir Rp 300 juta,” bebernya.

Sementara realisasi penanggulangan bencana di Wukirsari sudah dilakukan dalam berbagai sektor. Contohnya dalam penanganan kekeringan saat musim kemarau. Di mana pada tahun 2018 terdapat ribuan tangki air yang disetor ke Wukirsari.

“Pada 2020 sudah berkurang banyak, tinggal puluhan yang masuk ke Wukirsari. Target kami, dalam kekeringan 2021, sudah tidak ada lagi tangki yang masuk ke Wukirsari,” cetusnya.

Susilo optimistis atas penanganan bencana kekeringan. Apalagi, sudah ada tujuh sumur bor yang dibuat pada 2020 lalu. Selanjutnya sumur tersebut dikelola oleh APBKal Wukirsari. “Tinggal menambah sambungan ke masyarakat, kekeringan sudah tertangani,” ucapnya.

Sementara banjir dan longsor, kalurahan berkoordinasi dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Wukirsari, Garda Pucung, dan beberapa potensi relawan yang ada. “Semua bersinergi, Alhamdulilah penanganan antar komunitas sangat bagus. Jadi setiap ada bencana bisa ditangani dengan cepat,” ujarnya.

Selain itu, Kalurahan Wukirsari pun memiliki dua embung, yaitu di Karangkulon dan di Nogosari 2. Keduanya diharapkan bisa menjadi solusi penanganan banjir yang selama ini rutin terjadi.
Dia berharap dengan adanya embung, bencana banjir sudah tidak terjadi di Imogiri. ”Itu juga akan kami jadikan tempat wisata baru yang dikelola BUMKal,” harapnya.

Kalurahan Wukirsari pun turut melakukan penanggulangan bencana non-alam, seperti Covid-19. Di mana terdapat 25 orang yang tergabung sebagai Bolo Kubur. “Mereka melayani warga yang meninggal untuk dimakamkan sesuai prokes,” jelasnya.

Dijelaskan, pihak juga memiliki relawan yang siap 24 jam mengantar dan menjemput warga yang terkena Covid-19. ”Kami didukung dua armada ambulan yang ada di kalurahan,” bebernya.

Ketua FPRB Wukirsari Cahyo Widihastoro menambahkan, koordinasi potensi relawan dilakukan melalui sambungan handy talkie dan WhatsApp Group (WA). “Untuk laporan para dukuh dan juga linmas,” jelasnya. (fat/bah)

Bantul