RADAR JOGJA – Menyambut Nyepi, umat Hindu mengawali ritual dengan Melasti. Termasuk umat Hindu di DIJ. Ritual digelar di Pantai Parangkusumo sejak pukul 10.00 Kamis (11/3). Mengangkat tema “Memayu Hayuning Bhuwana dan Meningkatkan Harmoni Menuju Indonesia Sehat”, diakhiri dengan melabuh sesaji saat tengah hari.

Ketua Panitia Nyepi DIJ Tahun Saka 1943, Masehi 2021, Wayan T. Artama menjelaskan, rangkaian ritual Nyepi dimulai dengan Melasti. Selanjutnya ritual Tawur Kesanga, Nyepi, Ngembak Geni, dan ditutup dengan kegiatan Dharma Santhi. Untuk membekali umat dalam menjalani tahun baru, yang dilaksanakan bersamaan dengan Hari Bumi Sedunia atau Earth Hour. Di mana semua orang di muka bumi ini dianjurkan mematikan lampu selama dua jam sejak pukul 20.00 sampai 22.00.

Melasti sendiri bertujuaan untuk membersihkan segala kotoran badan dan pikiran atau buana alit. Serta hal-hal yang mengotori alam semesta serta alat upacara atau buana agung. Melalui prosesi spiritual keagamaan, akibat dari perputaran karma selama satu tahun yang penuh dengan berbagai intrik, gejolak, nafsu dan berbagai perbuatan buruk/negatif terhadap alam dan kemanusiaan. “Kami mulai pukul 10.00, persiapan dari jam 07.00. Acara dilakukan secara singkat tanpa seremonial, kemudian dilanjutkan acara ritual,” jelasnya saat ditemui usai upacara Kamis (11/3).

Melasti biasanya diikuti ribuan umat. Namun pandemi Covid-19 membuat panitia membatasi kehadiran. Hanya sekitar 60 umat Hindu yang hadir langsung dalam upacara. Di mana masing-masing pura di DIJ hanya diperkenankan mengirim lima orang perwakilannya. “Tahun ini 100 persen mengikuti protokol kesehatan (prokes). Acara besar seperti ini biasanya diikuti ribuan umat. Tapi hari ini hanya 60 orang. Dan semua mendaftarkan diri,” tuturnya.

Melasti disiarkan langsung melalui kanal Youtube, sehingga umat yang tidak berkesempatan hadir, tetap dapat menyaksikan upacara. Maka dalam pelaksanaannya, panitia menerapkan 5M, dengan mengatur jarak umat, menyediakan hand sanitizer, masker, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Selain itu, panitia tidak menghadirkan pendeta dari Pulau Dewata, Bali. Rangkaian ritual Nyepi disebut memberdayakan warga DIJ. Maka, Melasti kali ini dipimpin Juru Gede Dwijaya Akhir Murti Adi Wiyono. “Kami menghindari terjadinya kontaminasi atau infeksi dengan mendatangkan orang dari luar provinsi,” ucapnya.

Terselenggaranya Melasti disebut Wayan dapat merefleksikan Memayu Hayuning Bhuwana. Di mana masyarakat meningkatkan harmoni menuju Indonesia sehat. “Jadi dalam keprihatinan nasional, kami harus membantu pemerintah. Supaya wabah korona segera berakhir. Dalam setiap doa kami juga kami memohon Covid-19 segera berlalu,” sebutnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Bantul Nugroho Eko Setyanto hadir mewakili Bupati Abdul Halim untuk mengucapkan selamat. “Alhamdulillah tadi Melasti berjalan sesuai prokes. Kami mewakili bupati, mengucapkan selamat bagi umat Hindu di DIJ atas terselenggaranya upacara Melasti dalam rangka perayaan hari suci Nyepi Tahun Saka 1943,” ujarnya. (fat/laz)

Bantul