RADAR JOGJA – Pekerja seni merupakan kelompok yang sangat terdampak pandemi Covid-19. Kelompok ini sukar terlepas dari kerumunan. Padahal kerumunan menjadi hal yang harus dihindari selama pandemi. Selain itu, seni dianggap bukan kebutuhan primer, sehingga kehadirannya tertepikan.

Salah satu seniman yang mengalami kesulitan akibat pandemi adalah Kak Aris. Sebelum pandemi, pria 35 tahun ini kerap memajang lukisannya di ruang pameran. Harga jual lukisannya berkisar Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Kini, warga Sriharjo, Imogiri, Bantul itu terpaksa mengobral karyanya. “Sekarang saya bisa jual lukisan Rp 1 juta saja sudah senang,” ujarnya kepada Radar Jogja.

Lukisan dengan ukuran kecil bahkan dilepas Aris dengan harga Rp 100 ribu. Kendati begitu, Aris mengaku tetap bahagia. “Yang penting hasil penjualan bisa buat beli kanvas sama cat lagi,” cetusnya.

Untuk mengatasi minimnya ruang pamer, Aris pun berinisiatif dengan memajang karyanya pada salah satu warung yang tidak beroperasi di objek wisata (obwis) Srikeminut. Dengan harapan, ada wisatawan yang tertarik meminang salah satu lukisannya.

Dampak pandemi pun dirasakan oleh insan perfilman. Hanung Bramantyo mengungkapkan, budayawan dan film maker adalah kelompok yang terdampak pandemi secara serius. “Karena pekerjaan kami dianggap hiburan dan tidak penting. Hanya (dipandang, Red) sebagai kebutuhan tersier, bukan primer, sekunder saja enggak. Artinya tidak nonton film tidak masalah, tidak menonton film tidak akan mati,” selorohnya.

Padahal, terdapat sekitar 2.000-2.500 pekerja film di Daerah Istimewa Jogjakarta. Mereka terdiri dari aktor, ekstras, cameraman, dan komponen pendukung lain. “Kami bekerja dengan ketakutan. Takut kalau terpapar, juga takut kalau dibubarkan oleh satgas covid. Oleh karena itu, vaksinasi penting banget untuk kami,” ucapnya.

Dijelaskan, vaksinasi yang meluas akan memberikan kepercayaan diri. Baik terhadap pelaku seni dan penikmatnya. “Dengan vaksin yang tadinya tidak bisa bekerja, (jadi, Red) bisa bekerja. Orang yang tadinya ragu ke gedung bioskop atau pertunjukan. Setidaknya optimis. Sudah divaksin, kemungkinan sehat, dan ada kepercayaan diri untuk berani menonton hasil karya kami,” harapnya.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih berharap kegiatan seni dapat kembali bergeliat setelah vaksinasi. Kendati pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) masih berlangsung sampai 22 Maret mendatang. “Sekarang boleh (digelar, Red) pertunjukkan terbatas. Sekarang mulai kami longgarkan, seiring vaksinasi yang semakin meluas,” sebutnya.

Halim pun mengimbau pelaku seni untuk segera mendaftarkan diri atau kelompoknya kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul. Supaya mendapat alokasi dosis vaksin CoronaVac. “Bagi seniman dan budayawan bisa menghubungi dinkes. Karena pelaku seni banyak berhadapan dengan publik,” tegasnya. (fat/bah)

Bantul