RADAR JOGJA – Bagi warga Jogjakarta, kata Klitih sudah sangat akrab. Ini merupakan salah satu fenomena sosial berwujud aksi kekerasan dan kejahatan jalanan yang terjadi di DIJ dan daerah sekitarnya.

Fenomena ini terjadi pada umumnya terhadap anak muda usia 14-19 tahun yang merupakan pelajar Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.

Terlebih para pelaku kekerasan ini didominasi oleh anak bawah umur. Motifnya juga beragam, mulai dari broken home, balas dendam hingga yang sekadar eksistensi untuk bersenang-senang.

Klitih tidak hanya baru-baru ini mencuat ke tengah-tengah warga Jogjakarta, tetapi sudah sejak tahun 90 an klitih telah ada di Jogjakarta.

Pameran seni bertajuk Museum Lost Space mencoba menunjukkan bukti-bukti Klitih sejak tahun 90an hingga sekarang ini. Pemeran ini digelar di Galeri Lorong, Dusun Jeblok, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul hingga 6 April mendatang.

Pameran ini menunjukkan nama-nama geng, sketsa-sketsa, peta dimana geng berada, hingga senjata-senjata yang digunakan untuk melancarkan aksi klitih di jalanan Jogjakarta.

Berbagai macam senjata dipamerkan pada pameran ini seperti, pedang, gir, buntut ikan pari, knuckle, hingga korek api. Bahkan beberapa senjata memiliki nama di kalangan geng klitih seperti pedang pencabut nyawa.

Fenomena inilah yang menginspirasi seorang Yahya Dwi Kurniawan. Pria berusia 28 tahun ini mengangkat klitih sebagai sebuah pameran karya seni..

“Melalui pameran ini saya ingin menampilkan wajah klitih secara utuh. Latar belakang kenapa bisa terjadi, lalu siapa saja yang terlibat hingga cara pendekatannya,” jelasnya ditemui di sela-sela pameran, Kamis (11/3).

Dalam pameran ini, Yahya ingin menunjukan bagaimana cara melihat klitih. Menurutnya cara penanganan klitih saat ini tidaklah tepat. Terutama mengatasi dengan cara kekerasan oleh sejumlah kelompok masyarakat. Langkah ini justru membuat para pelaku klitih semakin tak tersentuh.

Cara termudah, lanjutnya, dengan memahami keinginan para pelaku klitih. Pria asal Magelang ini sempat melakukan observasi sebelum menggelar pameran. Berupa pendekatan secara intens. Salah satunya dengan nongkrong bareng untuk mengetahui cerita dibaliknya.

“Data saya kumpulan sejak 8 bulan lalu. Dulu saya itu juga seperti klitih di Magelang tapi namanya nglewor. Nah untuk riset, ikut dolan nongkrong. Tidak seperti mencari narasumber tapi mencari teman,” katanya.

Dari sinilah Yahya mengetahui seluk beluk dunia klitih di Jogjakarta. Mulai dari kisah, latar belakang hingga senjata yang kerap dibawa. Seluruhnya dia tuangkan dalam pameran karyanya.

Salah satu karyanya yang berjudul Xenggol Bacox adalah buktinya. Terdiri dari dua etalase kaca yang menyajikan beragam senjata tajam. Mulai dari pedang, kapak hingga buntut ikan pari.

“Alat-alat itu mendapat cerita dari mereka (pelaku klitih) dan kembangkan dari imajinasi saya sendiri, replika. Tapi ada juga 2 alat punya mereka. Itu buntut pari sama pedang,” ujarnya.

Yahya tak ingin menjadikan para pelaku sebagai objek dari pamerannya. Dia juga mengajak para pelaku klitih untuk ikut berkarya. Cara dengan menuliskan uneg-uneg di tembok ruang pameran. Adapula dalam media sebuah buku.

Cara ini menurutnya lebih efektif dalam memahami aksi klitih. Terutama untuk mengetahui latar belakang aksi kriminalitas tersebut. Mulai dari hasil perbincangan hingga coretan yang tertuang di tembok ruang pameran.

“Jadi sebenarnya ada kecemburuan sosial. Sempitnya ruang eksitensi mereka. Mau nongkrong di cafe tapi mahal. Mau ke kampung juga tidak ada ruang berekspresi sehingga larinya kejalanan dan wujudnya klitih,” katanya.

Hasil perbincangan lain terungkap fakta yang cukup membuat bergidik. Latar belakang melakoni aksi ini hanya sekadar untuk bersenang-senang. Wujudnya dengan teror aksi kriminalitas jalanan.

Yahya juga melihat sejarah geng di Jogjakarta. Pada era tahun 1980an hingga 1990an berlatar belakang perebutan materi dan wilayah. Bergeser ke tahun 2000an perselisihan antar kelompok khususnya sekolah. Sementara tren saat cenderung acak dengan korban yang tidak dikenal.

“Kalau dulu itu yang diincar jelas, cuma musuhnya. Sekarang ini random, karena hanya ingin eksis dengan cara meneror,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini Yahya ingin mengajak masyarakat lebih terbuka. Untuk menghadapi klitih tak cukup dengan cara kekerasan. Perlu ada pintu dialog dan komunikasi. Tak hanya oleh orangtua pelaku tapi masyarakat secara umum.

“Stop klitih itu tidak bisa, dimana ada kehidupan pasti ada kekerasan. Tapi bagaimana membuka pintu dialog komunikasi. Mereka juga butuh didengarkan,” katanya.(dwi/sky)

Bantul