RADAR JOGJA – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Jogjakarta (DLHK DIJ) kembali menutup Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan selama dua hari. Hal tersebut dikarakan jalan menuju dermaga ambles. Ditambah tuntutan warga sekitar, setelah adanya seorang warga yang jatuh di area dermaga.

Juru bicara warga sekitar TPST Piyungan Maryono mengaku geram, lantaran sudah tiga minggu lebih antrean panjang selalu mengular di jalan utama akses warga. Warga merasa diabaikan, sebab sudah melakukan pelaporan namun tidak mendapat respon.

Selain itu, warga juga dibuat geram oleh aktivitas bongkar muat sampah yang dilakukan di tepi jalan. Sehingga menghalangi kegiatan warga. “Itu (bongkar muat di tepi jalan, Red) mengganggu akses masyarakat yang membawa pakan ternak untuk keluar masuk. Tadi pagi (kemarin) ada yang jatuh. Oleh sebab itu, warga tidak sabar lagi melakukan penutupan,” ketusnya.

Dijelaskan, warga tersebut jatuh saat hendak menuju area dermaga TPST Piyungan. Di mana jalan tersebut memiliki kontur menanjak dengan jalan yang tergenang air limbah dari sampah di tepi jalan. “Terpeleset di dermaga, karena pembuangan dilakukan di tepi jalan. Tragedi orang jatuh menjadikan amarah warga memuncak,” keluhnya.

Untuk itu, warga menuntut dermaga TPST Piyungan diperbaiki. Sehingga bongkar muat sampah tidak dilakukan di tepi jalan. Tapi masuk sekitar 200 meter ke area dermaga. “Karena mengganggu warga masyarakat, juga jaga kebersihan, jangan ada antrean yang panjang,” pintanya.

Sementara Kepala Balai Pengelolaan Sampah DLHK DIJ, Jito mengaku tidak mengetahui insiden adanya warga yang jatuh. “Informasi warga jatuh saya tidak mendengar, informasi dari teman-teman tidak ada,” ujarnya.

Dikatakan, penutupan TPST Piyungan dilakukan oleh dinasnya setelah mengetahui jalan menuju dermaga ambles. “Tadi malam (Senin (8/3), Red), hujan deras di sana. Dermaga kami tidak permanen. Karena sampai jam lima masih banyak yang buang, malamnya hujan deras. Tumpukan sampah dan jalan tinggi sampah, akhirnya ada yang lari ke jalan. Terbawa aliran air itu,” jelasnya.

Jito pun mengklaim, pembersihan jalan sekitar dermaga sudah dilakukan oleh petugas. “Ini sudah kami bersihkan semua, kami kondisikan semua. Tapi ternyata, dermaga non-permanen itu ambles. Tidak bisa dilewati oleh truk, pikap juga tidak bisa,” ujarnya.

Oleh sebab itu terjadi diskusi antara warga dan petugas. Hasilnya, armada yang sudah antre bisa tetap membuang sampah. ”Tapi ternyata memang tidak bisa. Ambles jalannya. Semua armada kami minta putar balik. Kami buat surat resmi kami share ke umum agar teman-teman (sopir armada, Red) tidak kecelek,” ucapnya.

Selama penutupan, petugas melakukan pembenahan dan penataan. Dengan membuka jalan untuk masuk menuju dermaga. Setelah jalan dapat dibuka, akan dilakukan pengurugan dengan tanah dan pasir batu. “Harapan kami. Dua hari ini kami bisa mengkondisikan itu,” sebutnya. (fat/bah)

Bantul