RADAR JOGJA – Sriharjo merupakan salah satu kalurahan yang ada di Imogiri, Bantul. Lima dari 13 padukuhannya mengembangkan pariwisata. Setidaknya, sudah terdapat tujuh titik objek wisata (obwis) yang berkembang. Salah satu obwis unggulan yang dikembangkan yakni, Srikeminut.

Obwis ini meliputi tiga padukuhan, yaitu Sriharjo, Kedungmiri, dan Wunut. Pengembangannya dilakukan menggunakan dana desa Sriharjo. “Sejauh ini, fasilitasi dana desa untuk Srikeminut saja sekitar Rp 200 juta,” ungkap Lurah Sriharjo Titik Istiwayatun Khasanah dihubungi Senin (8/3).

Dana tersebut, antara lain digunakan untuk pembangunan warung percontohan, pelang wisata, penyediaan food court BUMDes, dan operasional Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Srikeminut.

“Anggaran yang kami belum terlalu banyak, tapi sudah cukup signifikan. Seperti (pembuatan, Red) tulisan Sriharjo. Operasional Pokdarwis, meskipun kecil saat pertemuan dengan pengelola pariwisata untuk konsumsi,” jelasnya.

Srikeminut sendiri merupakan obwis yang komplet. Lantaran memiliki beragam potensi wisata alam, seperti wisata air, bukit, air terjun, dan kontur alam yang cocok untuk tracking. Selain itu, warga di obwis tersebut disebut titik kooperatif. “Banyak yang bisa dieksplor. Juga didukung jembatan baru dan geliat warganya, terutama warga yang tengah dan timur,” pujinya.

Hanya, sambungnya, pengembangan wisata terkendala pandemi Covid-19. Di mana warga menjadi terbatas dalam membuat sebuah kegiatan. “Kendala pengembangan sama dengan desa lain, yakni Covid-19. Jadi kami memperdalam profil wisata Srikeminut, begitu pandemi selesai atau mereda kami sudah siap,” ujarnya.

Upaya memperkenalkan keindahan Srikeminut, sudah dilakukan oleh Kak Aris. Pria 35 tahun ini mengajak beberapa temannya untuk melukis keindahan Srikeminut. Disadari, lokasi Srikeminut yang cukup jauh membuat beberapa teman mengurungkan diri bergabung.

Namun, rekannya yang datang jauh dari Surabaya, Jawa Timur sangat bersyukur menerima tawaran Aris. “Wah aku bahagia sekali diajak sama Mas Aris dan Mas Sigit ke sini. Saya nggak tahu kalau ada lokasi mantap begini,” puji Kang Tejong.

Kang Tejong mengaku baru pertama kali ke Jogja. Seperti pelukis pada umumnya, dia ingin mengekspresikan langsung suasana yang ditangkapnya melalui goresan pada kanvas atau kertas. “Saya nggak pernah dengar ada Srikeminut di Jogja. Saya beruntung sekali bisa melukis langsung di sini,” ucapnya. (fat/bah)

Bantul