RADAR JOGJA – PEMKAB Sleman mengupayakan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) di tiga titik. Itu dilakukan, untuk menekan volume sampah dibuang(TPST) Piyungan, Bantul.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Dwi Anta Sudibya mengatakan, lokasi di bagian barat, rencananya di Kalurahan Sendangrejo, Kapanewon Minggir. Sementara Sleman tengah dan timur, wacananya di Kalurahan Caturtunggal dan Tamanmartani.

Kendati begitu, jelasnya, semua calon lokasi itu masih dalam tahap penjajakan. ”Kalau warga minggir nanti setuju, kita buatkan redesainnya. Lalu UPL (upaya pengelolaan lingukan.Red) untuk selanjutnya di usulkan ke pemerintah pusat,” ungkap Dwi (2/3).

Disebutkan, lahan yang disiapkan untuk pembangunan TPST di wilayah Minggir ini, seluas 1,5 hektare. Berkaitan dengan hal tersebut, pihaknya sudah mengajak warga Minggir melakukan studi banding ke Tangerang pada akhir tahun 2020 lalu. Dan jika tidak ada penolakan dari warga, pengadaan fasilitas paling cepat terealisasi pada tahun 2022 yang akan datang. Sumber dananya, menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). ”Taksiran nilai sekitar Rp 28 miliar,” sebutnya.

Pengelolaan TPST, akan menerapkan teknologi canggih sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Berdasarkan perhitungan, tempat pengelolaan sampah itu bakal mampu menampung 40 ton per hari. Kapasitas tersebut masih jauh bila dibandingkan dengan volume sampah di Sleman. Yakni, sebanyak 650 ton per hari.

”Bahkan lima kali lipat lebih kecil dari volume sampah yang di buang di TPST Piyungan. Yakni, sebanyak 200 ton per hari,” jelasnya.
Sementara untuk lokasi tengah yang diwacanakan di Caturtunggal, Depok dan Purwomartani, Kalasan tengah dalam peninjauan. Kendati begitu, pihaknya terlebih dahulu akan memfokuskan bagian barat.

“Dari Kalasan datang, Caturtunggal sudah ketemu sekda katanya juga menawarkan. Saya sudah lihat, tempatnya, akses jalannya juga bagus, nggak terlalu jauh dari jalan raya,” bebernya.

Sementara itu, Desa Wisata Sukunan dinilai cukup berhasil dalam mengelola sampah. Pengelola bank sampah, Suharto mengatakan, sampah yang dikelola dengan baik dapat memberikan nilai tambah. Sampah botol yang sudah disortir dapat dicacah dan dijual ke pengepul. ”Mengatasi sampah tidak hanya membangun depo sampah, kesadaran masyarakat juga harus dibangun sejak diri, dari lingkup terkecil, keluarga,” tandasnya. (mel/bah)

Bantul