RADAR JOGJA – Permasalahan di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan seolah tak pernah usai. Kali ini, protes dilakukan sopir armada pengangkut sampah pemerintah. Mereka meninggalkan armadanya dan menggeruduk Balai TPST Piyungan.

Pemicunya hal sepele. Para sopir truk sampah pemerintah emosi, lantaran sudah lama mengantre, tiba-tiba ada armada lain yang menyalip. Akibatnya, antrean armada menuju dermaga mengular sekitar 300 meter.
“Ada warga (sopir armada, Red) baru datang menyalip,” ungkap Kepala Seksi Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Balai TPST Piyungan, Arismanta ditemui Radar Jogja Rabu (3/3).

Dijelaskan, antrean juga disebabkan oleh jam kedatangan armada yang bersamaan. Padahal, masing-masing armada telah diberi jadwal. Aris lantas menuding antrean bertambah panjang, akibat aksi mogok supir plat merah. “Tadi berhenti satu jam, antrean tambah banyak. Kalau tidak ada truk berhenti akan lancar,” klaimnya.

Tidak hanya itu. Aris menyebut penyebab utama terjadinya antrean adalah minimnya alat berat yang beroperasi. Dari tujuh alat berat lima di antaranya rusak. Hanya dua yang dapat beroperasi, dan keduanya hanya bulldozer. “Dua hari ini alat ekskavator kami rusak. Sementara ekskavator bekerja untuk menurunkan sampah dari armada yang tidak memiliki hidrolis,” jelasnya.

Akibatnya, armada non-hidrolis membuang sesukanya di tepi jalan. Kemudian terjadilah antrean armada yang berjejer. Ini membuat akses armada berhidrolis sulit membuang sampah. Sebab lahan menjadi sempit. “Membatasi yang dump truck. Itu membuat masalah,” ujarnya.

Keadaan diperparah dengan hanya tersedianya satu dermaga. Dermaga tersebut melayani armada swasta dan plat merah. “Swasta dan pemerintah jadi satu. Keadaan ini akan berlangsung selama satu tahun,” bebernya.
Menurut Aris, rusaknya ekskavator akibat dipaksa bekerja terlalu keras. Di mana TPST Piyungan mendapat kiriman sampah dari Kota Jogja, Sleman, dan Bantul sebanyak 600 ton per hari. ”Sebandel apapun alatnya tetap akan rusak kalau dipaksa terus,” dalihnya.

Juru bicara warga sekitar TPST Piyungan, Maryono mengungkap, antrean panjang sudah terjadi sekitar tiga minggu. Warga disebutnya sudah menyampaikan keluhan, tapi belum ada solusi yang dirasa memuaskan. “Warga untuk membawa makan ternak dan lalu lalang sangat terganggu. Tapi warga belum akan melakukan penutupan,” sebutnya. (fat/bah)

Bantul