RADAR JOGJA – Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul Kwintarto Heru Prabowo pun menanggapi unggahan bohong wisatawan terkait pengerukkan pantai. Setelah informasi yang terlanjur viral, pihaknya sudah cek lokasi. Hingga disimpulkan berita tersebut tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. “Maka kami sudah minta klarifikasi, bahwa itu sebetulnya adalah fenomena alam,” tuturnya ditemui di kantornya Selasa (2/3).

Curahan Kali Pepe membuat gerusan yang menyebabkan sungai kecil. Namun, arah alirannya tidak menentu. Kadang agak ke selatan, malah ke timur, sekarang ke arah barat. Akhirnya masyarakat berinisiatif membuat, semacam jembatan bambu untuk dilewati pengunjung. Awalnya masyarakat murni untuk menolong. “Tapi informasi yang kami terima dari petugas di lapangan, di sana lalu bermunculan pembuat jembatan baru. Salah satunya, ditunggui oleh bukan orang Parangtritis. Ada yang membuat dan disuruh menunggu. Akhirnya ditarget yang lewat suruh bayar,” ungkapnya.

Awalnya, terdapat enam jembatan bambu yang dibangun oleh kelompok pedagang. Setelah berjalan, itu dirasa menguntungkan. Dilaporkan, sekarang muncul jadi 12. Karena dianggap memiliki keuntungan. “Terkait dengan kondisi apapun, kami akan membuat antisipasi dini,” tegasnya.

Terkait dengan aliran yang menyebabkan pantai mengalami abrasi, Kwin pun menyebut akan melakukan antisipasi. Dengan membuat sodetan yang diarahkan ke selatan. namun, itu disebutnya belum dapat dilakukan sekarang. Tapi sudah dianggarkan di tahun depan. “Tahun ini belum siap. Biasanya mengalir ke timur, tahun ini kok ke barat. Kami tidak memprediksi terjadi fenomena itu,” jelasnya.

Selain itu, aliran yang terbentuk mengarah ke barat, disebut Kwin terlanjur sudah dalam. Sehingga sulit untuk dibelokkan ke arah selatan. Tapi, sebenarnya aliran Kali Pepe tidak secara total menutup akses ke pantai. “Kalau tidak mau lewat jembatan, ujung sungai juga tidak terlalu jauh. Muter juga bisa. Kalau saya lihat, ini (unggahan bohong wisatawan terkait pengerukan pantai, Red) merugikan saja.,” ujarnya.

Sementara Lurah Parangtritis, Kretek, Bantul, Topo menganggap permasalahan sudah selesai. Lantaran wisatawan yang mengunggah kabar bohong terkait pengerukan Pantai Parangtritis sudah meminta maaf. “Kalau sudah dijelaskan, tidak ada. Apalagi yang membuat berita sudah minta maaf ya sudah,” ujarnya.

Namun, Topo membenarkan, abrasi di Pantai Parangtritis merupakan fenomena alam. Hal ini biasa terjadi di musim penghujan. Itu menyebabkan sungai meluap, terus membuat sungai di pinggir pantai. Menurut dia, konidis tersebut terjadi secara alami. Warga kemudian inisiatif membuat jembatan dari bambu. Untuk orang yang lewat, per orang bayar Rp 2 ribu. “Kalau yang tidak ingin sepatunya basah. Tapi kalau mau lewat sungai tidak apa-apa. Karena tidak terlalu dalam,” jelasnya. (fat/pra)

Bantul