RADAR JOGJA – Kali Pepe meluap saat musim penghujan. Curahannya mengalir sampai ke Pantai Parangtritis. Timbullah fenomena unik, sungai yang mengalir di dekat bibir pantai. Fenomena ini tidak memiliki nama khusus. Namun sebagian warga percaya, dalam hitungan penanggalan jawa, dua aliran kali yang mengalir ke Parangtritis sudah waktunya bertemu. Sebelum benar-benar bermuara ke samudera.

“Mitosnya bilang, kali sana lelaki (menunjuk di bagian barat, Red), kali sini (kali yang terbentuk dari curahan Kali Pepe, Red) perempuan. Kalau belum tepung (bertemu), belum rampung,” ucap seorang pedagang kelapa muda, Supriyono kepada Radar Jogja Selasa (2/3).

Aliran yang terbentuk akibat curahan Kali Pepe tahun ini memang bergerak ke arah barat. Sementara pada tahun-tahun sebelumnya, mengarah ke timur, kalau tidak condong ke selatan. Tapi, karena mengalir ke barat, aliran sungai menyebabkan abrasi. “Nanti kalau sudah ketemu, pisah. Mitosnya seperti itu. Jadi, kalau kemarin ada yang bilang ini dikeruk. Itu salah,” tegasnya.

Diceritakan, sebelumnya, seorang wisatawan asal Purwokerto mengunggah kabar bohong. Dia menuduh pedagang di sekitar aliran yang terbentuk akibat curahan Kali Pepe sengaja mengeruk pasir. Sehingga wisatawan yang ingin mendekat ke bibir pantai harus melewati jembatan, yang dibangun oleh pedagang dan ditarik retribusi sebesar Rp 2.000 sekali menyebrang.“Dia bilang, kalau pedagang melakukan aji mumpung. Pasirnya dikeruk, terus dibuat jembatan. Dikatakan begitu. Kami jadi sedih. Padahal ini fenomena alam dan ada kisahnya,” keluhnya.

Pedagang kemudian berinisiatif membangun jembatan. Lantaran mereka memiliki penyewaan payung dekat bibir pantai. Selain itu, mereka bermaksud memudahkan wisatawan akibat pantai yang abrasi. “Kan juga laut lagi pasang, jadi jembatan ini hanya menjaga. Kalau pakai sepatu, mau menyebrang kan basah,” tuturnya.

Dijelaskan pula, dalam membangun jembatan, pria 50 tahun ini menghabiskan biaya sampai Rp 2 juta. Dilakukan secara swadaya bersama tiga orang lain, jadi masing-masing Rp 500 ribu. Menurut dia, untuk membangun jembatan pakai biaya, bambu beli, hingga membayar tenaga pekerjanya. “Kami itu suka rela, kadang orang lewat kasih, malah kadang cuma masukin karcis. Itu pun cuma kami minta Sabtu-Minggu, hari biasa enggak,” sebutnya.

Sementara itu wisatawan asal Klaten, Jawa Tengah Joko Saputro mengaku senang dengan adanya jembatan bambu. Jembatan memudahkannya menuju ke tepi pantai. Kendati begitu, pria 25 tahun ini merasa was-was, karena jembatan dibangun di atas pasir abrasi. Di mana tingginya ada yang mencapai dua meter. “Tapi tergantung sih. Lihat cuaca juga. Kalau gelombangnya besar mending jangan mendekat,” ucapnya. (fat/pra)

Bantul