RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 berdampak keberbagai kalangan. Termasuk sentra penjualan batik. Salah satunya sentra batik tulis khas Keraton terbesar di DIJ, yakni di Kampung Batik Giriloyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

Inilah  yang mendorong Komunitas Penerima Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Angkatan 168, Nala Bumintara, tergerak untuk melakukan Social Project, “Pemulihan Ekonomi Nasional”. Digelar di Kampung Batik Giriloyo, Sabtu (27/2)  yang diadakan secara daring dan  50 peserta secara luring dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Perwakilan Angkatan PK 168 LPDP Richi Yuliavian menuturkan, kegiatan ini adalah wujud pengabdian LPDP kepada masyarakat, sesuai dengan nilai-nilai yang dianut LPDP yaitu integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan.

Sosial Project ini, untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat pembatik. “khususnya di Kampung Batik Giriloyo,” katanya.

Bentuk kegiatan pelatihan yang dilakukan mencakup tiga program. Program pertama adalah Community Service, yakni proses dokumentasi dan penulisan sejarah, filosofi dan cara pembuatan pola-pola batik Giriloyo yang unik.

Kemudian Community Development, yaitu pemberian pelatihan teknik fotografi dan copywriting.

Kedua jenis pelatihan ini diberikan untuk mendukung kemampuan pengrajin batik dalam memasarkan produk mereka secara online. Program ketiga sekaligus program terakhir adalah Community Relation, yakni program untuk menghubungkan Kampung Batik Giriloyo ke komunitas-komunitas batik secara nasional, seperti Yayasan Batik Indonesia.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Batik Giriloyo Isnaini Muhtarom mengakui memang selama ini 90 persen total transaksi batik dilakukan dengan sistem offline. Untuk menyiasati Pembatasan Sosial, warganya sudah memiliki kesadaran pentingnya pemasaran digital dalam mempromosikan produknya.

Akan tetapi, keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya manusia, yang seharusnya bisa memanfaatkan kesempatan dengan media digital.

“Misalnya website dan media sosial paguyuban ini masih belum digunakan secara maksimal dan seyogyanya bisa dikembangkan,”ujarnya.

Sedang Perwakilan Kelurahan Desa Wukirsari selaku Pamong Kelurahan Desa Agus Basuki menekankan, ilmu yang dipelajari melalui Sosial Project ini merupakan ilmu yang baik untuk dipelajari dan harapannya produknya semakin mendatangkan calon pelanggan.

Menurut dia, 1.000 Pengrajin batik tulis di Kelurahan Desa Wukirsari, lalu juga 800 pengrajin wayang, dan 400 pengrajin bambu menunjukkan potensi yang besar bagi Kelurahan Desa Wukirsari.

“Harapan kami supaya pelatihan ini bermanfaat dan bisa direplikasi di desa dan dusun lain di Kelurahan Desa Wukirsari,” harapnya. (om2/sky)

Bantul