RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul menyebut sudah terbiasa menerima ujaran kebencian (bully). Termasuk ujaran yang dilontarkan Supriyanto. “Bagi kami, isu seperti itu, pem-bully-an yang sejenis itu bukan kali pertama. Sudah sering kami alami, bagi teman-teman kami, tenaga kesehatan (nakes). Cuma bagi kami, apapun yang disampaikan, kami tetap melayani masyarakat, tetap memberikan pelayanan terbaik dalam penanggulangan Covid-19,” ujar Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharjo saat ditemui Radar Jogja di kantornya, Selasa (23/2).

Menurut Agus, lebih penting dinasnya fokus memutus mata rantai penularan Covid-19. Maka pemakaman secara protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19 pun harus dilakukan. “Kalau terpaksa meninggal, kami menyampaikan prokes. Bukan kami yang memakamkan, tapi protokol yang harus dicapai. Pada hakikatnya supaya tidak terjadi penularan yang lebih banyak,” jelasnya.

Disampaikan, pemakaman warga terkonfirmasi atau terduga Covid-19 tidak mudah. Agus bahkan mengungkap, kakaknya meninggal akibat Covid-19. “Saya dapat videonya utuh bagaimana cara memandikan dengan syariat Islam, mereka akuntabilitasnya bagus. Bayangkan, mereka dengan risiko seperti itu saja mau melakukan. Kenapa malah dituduh meng-Covid-kan. Ini yang disayangkan,” keluhnya.

Pemakaman dengan protokol pencegahan Covid-19 pun tidak dilakukan oleh Dinkes. Namun diakui Dinkes memberikan materi serta panduan pemakaman sesuai protokol pencegahan Covid-19. “Kami bukan pelaksana dan juga bukan pendana. Jadi kami dari sisi pembiayaan tidak ada urusan. Setahu saya selama ini pemakaman itu BPBD. Karena kesibukannya, di-support oleh Satpol PP, kemudian di daerah ada FPRB. Yang jelas tidak ada alokasi di kami terkait pemakaman Covid-19,” tegasnya.

Diharapkan masyarakat tetap sehat dan pandemi Covid-19 segera berakhir. Jadi petugas memilih untuk tidak memperhatikan isu miring tentangnya. “Kami sudah terbiasa dan selalu tutup telinga, yang penting kita selalu kerja dan melayani. Dari dulu sering masyarakat, katanya ada konspirasi Covid-19, nanti kalau dapat pasien Covid-19 dapat bayar jutaan dan sebagainya,” cetusnya.

Hal ini disebut Agus menyakitkan, terutama bagi petugas yang berjuang tidak kenal lelah dan waktu. Di samping harus menggunakan alat pelindung diri (APD) yang menyesakkan. “Tapi hadiahnya cemoohan, cacian, bully. Tapi kami selalu menyampaikan ke teman-teman semua, bahwa kami memang sudah bersumpah sebagai nakes. Ada di garda terdepan dalam penanggulangan Covid-19,” kata dia.

Oleh sebab itu disampaikan, Dinkes tidak turut dalam aksi verbal atau unjuk rasa. “Termasuk sikap ini juga Gugus Tugas. Tidak bersikap apapun, kami tidak ada instruksi. Jangan membuat ikut gaduh, jangan sampai ada yang ikut turun,” sebutnya.

Dipastikan penanganan dilakukan sesuai pedoman dan acuan, sehingga RS atau fasilitas kesehatan (faskes) meng-Covid-kan seseorang tanpa dasar. “Apa kalau sudah meng-Covid-kan orang itu kami dapat hadiah yang luar biasa? Kan tidak, sama saja. Kalau mau enak-enaknya, kita tidak ngapa-ngapain, ya malah tidak ada pekerjaan, tidak capek,” ujarnya.

Terpisah, Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi menuturkan, jajarannya sudah mengambil tindakan menyangkut ujaran Supriyono. Petugas juga sudah mendapatkan dan mempelajari video rekaman ujaran Supriyono. “Tindakan yang kami lakukan, menurunkan baik secara informasi masyarakat (fimas) dan intelijen untuk meredam gejolak di masyarakat. Kami segera melakukan penyelidikan, ternyata TKP ada di Lendah, Kulonprogo,” bebernya.

Untuk itu, Polres Bantul bekerjasama dengan Polres Kulonprogo dan Polda DIJ dalam proses penyidikan. Lantaran saksi yang terkait dengan video itu ada di Kulonprogo. “Kalau kami yang melakukan penyidikan, kami akan kesulitan. Saksi kejadian di wilayah sana semua. Jadi pasti ada kendala. Delik hukum merupakan ranah penyidik yang memiliki kewenangan berdasar TKP kejadian,” jelasnya.

Selain itu, Wachyu mengungkap, belum ada laporan dari masyarakat yang masuk ke Polres Bantul terkait video ujaran Supriyono. “Untuk pelaporan, kami menunggu. Mungkin akan ada yang melapor ke Kulonprogo atau Polda. Sementara di Bantul belum ada yang melapor,” ucapnya.

Atas kejadian ini, Kapolres mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing atau terprovokasi terhadap ucapan Supriyono dalam video. Supaya keadaan tetap kondusif dan tidak menimbulkan keresahan. Disampaikan pula jajarannya turut melakukan pengamanan saat ratusan relawan Bantul melangsungkan unjuk rasa di gedung DPRD Bantul (22/2). “Alhamdulillah, semua berjalan lancar,” ujarnya. (fat/laz)

Bantul