RADAR JOGJA – Hujan lebat disertai angin kencang juga terjadi di Kabupaten Bantul. Akibatnya, 56 pohon dilaporkan tumbang. Selain itu, hujan juga menyebabkan banjir dan bangunan ambruk.

“Kejadian ini tersebar di 13 kapanewon yang meliputi 25 kalurahan,” sebut Manajer Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Aka Luk Luk Firmansyah saat dihubungi Radar Jogja Rabu (17/2).

Secara rinci hujan lebat disertai angin kencang menumbangkan pohon yang merusak 17 rumah dan satu fasilitas pendidikan. Selain itu, pohon tumbang juga mengganggu 26 akses jalan dan delapan jaringan listrik. Ada enam titik di Kapanewon Bambanglipuro, delapan titik di Bantul, dua titik di Dlingo, dua titik di Jetis, sembilan titik di Kretek, empat titik di Kapanewon Pundong, lima titik di Sanden, lima titik di Sewon, dan enam titik di Kapanewon Srandakan. “Sementara di Pajangan, Pandak, Pleret, dan Kasihan masing-masing satu titik,” paparnya.

Dijelaskan, Februari merupakan puncak musim hujan. Selain itu, La Nina masih terjadi, sehingga warga diminta mewaspadai potensi hujan disertai angin dan petir. Terutama bagi wilayah yang memiliki potensi longsor dan banjir untuk memantau wilayah rawan melalui siskamling atau ronda dan mengenali tanda-tanda bahaya.

“Puncak musim hujan potensi terjadinya gerakan tanah atau tanah longsor dan banjir meningkat, serta mewaspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem akibat dinamika perubahan cuaca. Terkait cuaca, masyarakat dapat mengakses web atau aplikasi BMKG,” imbaunya.

Terpisah, Koordinator Komunitas Penembahan Semanak (KPS) Jogjakarta Heru Purwanto bersama belasan anggotanya membantu menanggulangi bangunan roboh di Padukuhan Mrisi, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Pria 40 tahun itu menuturkan, bangunan roboh sekitar pukul 11.30 akibat terpaan hujan disertai angin kencang. “Mungkin karena bangunannya tidak begitu kokoh, terus ambruk,” jelasnya.

Bangunan dengan material baja ringan yang roboh itu menimpa atap dua bangunan lain di utaranya. Satu rumah yang tinggali tiga jiwa, sedangkan satunya adalah warung. Warga yang menempati bangunan pun sudah diungsikan. “Tidak ada korban jiwa. Cuma rumah yang harus segera ditanggulangi. Takutnya, kalau ada hujan dan angin lagi, kerusakan rumah akan bertambah parah,” ucapnya.

KPS membuat penyangga bagian samping rumah menggunakan bambu dan besi berbentuk kotak. “Ini sama teman-teman relawan ditambah penyangga agar tidak terlalu membahayakan rumah. Kami tidak dapat menyelesaikan semua. Tapi minimal kalau ada angin lagi, ada penyangga (bangunan roboh, Red) selain rumah,” jelasnya.

Heru pun berharap pemilik bangunan roboh segera bertanggung jawab. Lantaran KPS tidak dapat membongkar sendiri bangunan yang roboh. “Ini berat. Seharusnya yang punya mencari tukang. Karena untuk mencopot itu, harus tukang. Kami tidak mampu,” ujarnya. (fat/laz)

Bantul